Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Kinanti, Surat Penutup


Surat penutup

Kinanti, apa kabar?
Aku yakin kau baik dan sangat bahagia dan aku pun merasakan kalau kau sedang dilanda rasa terima kasih kepada Tuhan. Hidup sudah begitu sempurnakah? Aku merasakan apa yang rasakan meski tak pernah bertemu lagi.

Kinanti,
kau tahu apa yang aku ingin kan dari dulu. Tentang menjadi seekor burung yang bisa terbang tanpa lampu merah di setiap perempatan, tanpa bunyi kelakson di setiap pemberhentian.  Kau tahu burung dapat hingap di mana saja tanpa perlu merasa khawatir. Ia dapat mencari makan sendiri tanpa harus sibuk mencari dulu alat tukarnya. Apa kau pernah lihat burung mati kelaparan, Kinan? Burung hanya mati kalau diterkan pemangsa, atau ditembak manusia, atau sudah waktunya.

Kinan, aku benar ingin menjadi burung. Kalau saja reikarnasi itu benar ada, aku akan memohon kepada tuhan untuk menjadi burung.

Tidak! Aku cuma ingin menjadi burung elang. Gagah, kuat, dan ditakuti. Aku tak mau menjadi butung gereja, atau burung pipit yang mencuri padi petani. Aku ingin menjadi burung elang yang melayang berputar di kaki langit, bersuara lengking yang berkesan bijaksana. Siapa lagi burung dengan kasta tertinggi selain elang? Tak ada Kinan, tak ada. Kalau ada pun, aku tetap mau menjadi elang yang akan setia kepada pasangannya. Burung paling setia, burung gagah melambangkan cinta.

Kinanti,
aku benar benar ingin bertemu denganmu, sekali saja, sebentar saja. kalau boleh tidak mengatakan apa pun, karena aku pun sama tidak akan mengeluarkan sepatah kata. Aku hanya ingin melihatmu saja, Kinan. Melihat senyum manismu, melihat rambut panjang hitammu, melihat lentik jarimu, melihatmu utuh tanpa halanga, tanpa jarak, tanpa waktu. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu, sedikitpun tak akan, Kinan. Kalau aku menyentuhmu boleh kau panggil polisi untuk menangkapku, penjarakan aku, siksa aku, tapi satu pintaku, ingin melihatmu dari dekat.

Kinanti,
Aku baru selesai dari drama drama menyedihkan hidup. Aku sudah bisa berjalan meski terseok. Aku tak mau berlari, aku tak punya sepatu, mana bisa aku berlari tanpa sepatu. Siapa orang yang berlari tanpa sepatu, siapa, Kinan? Kalau ada, kaki orang itu pasti terluka, berdarah darah hingga harus diamputasi. Aku tak mau seperti itu. Cukup saja kau berjalan perlahan, menikmati udara kiri kanan, menikmati semburan sinar matahari yang hampir padam. Tanpa drama drama setingan dengan skrip murahan. Aku mau terbebas sepenuhnya dari itu.

Cuaca sore yang cerah adalah hal yang paling sempurna. Itu katamu waktu dulu, Kinan. Kata yang selalu aku ingat dan selalu aku simpan dalam hati. Aku tak penah lupa kata katamu yang selalu menuntunku untuk pergi sejenak, tinggalkan rutinitas, nikmati setiap detik dalam hidupmu. Tapi aku menyesal karena dulu tak pernah menurutinya. Aku benar menyesal, Kinan. Apakah ada sedikit harapan untuk mempebaikinya.

Tidak, Kinan. Aku tidak bisa memperbaikinya sendiri. Aku mau memperbaikinya denganmu, berdua bersama mengikuti apa yang selalu kau katakan. Menikmati setiap detik berdua, bersama. Apakah akan bisa terjadi seperti itu, Kinan? Tolong jawab, tolong. Aku mau memperbaikinya. Aku mau kau ada di sini, Kinan. Aku tak mau membuat surat surat untuk mu seperti ini. Aku mau mengatakannya langsung tanpa kertas dan pena.

Aku mau berhadapan denganmu di meja makan, membicarakan apa yang telah kita lakukan hari ini. Aku mau menikmati masakanmu yang selalu kau ceritakan. Resep masakan warisan orang tuamu yang merupakan hasil warisan nenekmu. Aku mau itu, Kinan. Dengan bunyi sendok yang berada piring, aku ceritakan suasana kantorku dan kau ceritakan gaduhnya kelasmu. Lalu kau akan tertawa saat menceritakan seorang muridmu yang menari nari kegirangan saat melihat hasil pekerjaanya diberi penghargaan olehmu. Aku ingin seperti itu, Kinan. Kumoho, Kinan, aku memohon.

Kinanti,
aku memang orang yang naif. Aku selalu ingin semua keinginanku tercapai. Namun aku lupa tidak semua yang kita inginkan bisa teewujud. Aku memang bodoh, hanya bisa menulis surat ini. Aku memang orang tolol yang cuma bisa berandai andai,

Menjadi elang apanya? Menjadi burung gereja saja aku payah. Aku tak bisa membangun sarangku sendiri, aku tak bisa mencari makanku sendiri. Bagai mana aku menjadi elang yang selalu melindungi. Aku cuma burung yang cacat. Burung dengan sayap yang tak berguna. Burung yang tak berani terbang jauh dari sangkar. Burung yang lupa bagaimana kodratnya menjadi burung. Itu aku, Kinan. Itu aku! Si burung bodoh yang tak tahu menggunakan sayap.

Kinanti,
maaf aku tak bisa menjadi seorang yang berada selalu didekatmu. Tapi aku yakin kau pun tak menginginkannya. Karena, aku ini siapa, cuma seorang yang terlalu pecrcaya kalau kelinci dalam buku Alice itu benar ada. Kalau waktu itu bisa diputar hanya dengan membalikan jarum jam. Siapa lagi orang yang bodoh seperti ini selain aku. Tak ada, Kinan. Tak ada. Aku tekankan sekali lagi. Tak ada orang yang paling bodoh selain aku.

Kinan,
maaf, Kinan, maaf. Aku minta maaf.
Kinan,boleh aku berterima kasih untuk apa saja yang kau perbuat untukku. Untuk ucapan yang dengan atau tanpa sengaja diarahkan untukku. Kinan, aku berterima kasih karena memperkenalkan Frau kepadaku. Aku berterima kasih karena kau mau berdiskusi tentang televisi denganku. Aku berterima kasih karena telah menemaniku dalam perjalanan menuju stasiun, meski hanya dengan pesan pendek. Aku berterima kasih karena pernah menemaniku makan pecel lele, kita berdua kesurupan waktu itu. Kinan, semoga kau masih menyimpan hadiah pemberianku. Aku berterima kasih karena telah sudi berbagi kata sandi denganku. Dan aku berterima kasih karena telah menjadi bagian yang menyenangkan dari pencarianku. Aku senang menunggumu walau gagal. Ini surat terkahirku kepadamu, Kinan.
Kinanti,
maaf aku mencintaimu sedalam ini.

20 Februari 2019
*salam untuk suamimu dan kecup manis untuk Kinanti kecil, anakmu.

READ MORE - Kinanti, Surat Penutup

Kinanti #10, Apa Reinkarnasi Itu Ada?

Kinan, kamu sehat?

Kalau flu, emang lagi musimnya sih. Kemarin flu sempat hinggap padaku. Tidak enak rasanya harus terus minum setiap saat, tenggorokan kering, mulut kena sariawan. Tapi untung sudah berakhir penderitaan. Tinggal sekarang aku mau tanya.

Kinan, kapan terkahir kali kamu berfirkir ingin reinkarnasi?
Aku baru saja berfikir seperti itu. Enak rasanya kalau jadi kupu-kupu, tak merasakan hidup bertahun-tahun. Cukup singkat tapi dikagumi, tak pernah dipusingkan harus berbuat apa ketika tak diberi tugas tetap. Yah karena memang tugas kupu-kupu cukup untuk dikagumikan.

Kinan, ingat tidak saat di lapang sepakbola, saat kamu ingin melihat anak-anak berlatih. Mereka berlari mengejar bola tanpa ada beban. Mereka hanya fokus bermain tidak peduli sekeliling, bahkan ayah ibu mereka yang mengantarkan. Lalu saat itu kau berkata, "Aku ingin seperti mereka, yang terus bermain. Aku tak pernah ingin menjadi saat ini. Terlalu banyak keinginan. Anak-anak terlalu sederhana, aku ingin."

Kinan, kini aku mengerti apa magsud katamu saat itu. Sesederhanakah hidup kita, hanya manusia dengan hati yang mampu menjawab.

Kinan, coba tebak aku ingin reinkarnasi manjadi apa? Bukan kupu-kupu. Aku ingin menjadi fungi, iya jamur. Aku rindu kamu, Kinanti.

Bandung, 17 Maret 2015
Saat di kantor semua sibuk dengan tugasnya, tapi sendirinya bengong.
READ MORE - Kinanti #10, Apa Reinkarnasi Itu Ada?

Kinanti #9, Kita Yang Menentukan Hidup

Malam Kinan, sudah berapa musim aku tak kirimimu surat. Aku tak lupa, hanya sedang malas untuk bercakap dengan tulisan. Sekarang sudah hampir mau musim  hujan lagi dan aku ingin kamu tahu, aku merindukanmu, lagi.

Katakanlah malam ini akhir hidupku, apa yang kau inginkan didetik terakhir ku hidup? Apa kau ingin kembali tertidur dibahuku? Kau ingat, saat dulu kau menangis karena ucap temanmu soal hidup? Saat temanmu bicara semua telah ditentukan takdir, tapi kau tak percaya hidup ditentukan hanya oleh apa yang sudah tertulis. Saat itu kau bilang, kalau ini takdir kita tak bisa salahkan Hitler yang fasis karena ini telah ditentukan. Kau bilang takdir itu tidak ada, yang ada hanya bagaimana kita bisa hidup dan menjalaninya. Aku percaya kamu. Tapi temanmu dengan segala argumen sampahnya terus berkoar dan menghubung hubungkannya dengan agama dan kitabnya. Kau sendiri bilang kita ini hidup berdasarkan naluri kemanusian kita dan agama itu masalah personal, tak ada yang bisa menentukan hidup. Aku percaya kamu. Kalaupun semua yang baik itu menyenangkan kenapa harus ada yang ditakdirkan untuk menjadi jahat, menjadi pembunuh, pencopet, juga koruptor. Semua ini masalah ekonomikan, kamu yang membuatku tahu bahwa bertahan hidup itu adalah naluri makhluk yang bernyawa. Hidup ditentukan oleh kita sendiri, jalan lurus atau berkelok yang akan kita ambil. Kalau semua ditentukan takdir, kenapa tak semua dibikinkan jalan lurus agar tak ada yang salah jalan dan mungkin kita akan hidup santai menarik oksigen. Kamu yang meyakinkanku hidup kita ditentukan oleh kita, bukan menunggu takdir. Aku percaya kamu.

Kalau kau ada di sini, aku yang ingin tertidur di bahumu sekarang, Kinan.

10 Oktober 2013, Rancaekek

READ MORE - Kinanti #9, Kita Yang Menentukan Hidup

Kinanti - #8

Kinanti, aku menulis tepat tengah malam. Malam antara kamis dan jumat, malam selepas hujan menderu dari sore, malam tanpa suara jangkrik, malam tanpa bintang, tanpa bulan. Malam ini aku menulis, tepat di tengahnya.

Kinanti,
Sungguh hari ini menjadi sangat aneh bagiku yang sudah tak kunjung tahu bagaimana hidup akan bergulir ke depan. Mengganti hari, mengganti tanggal, mengganti bulan, bahkan menggati malam ini dengan malam yang mungkin serupa. Tapi aku ingin merasakan malam yang berbeda, hidup tanpa dipenuhi pikiran tanggungjawab untukku sendiri. Aku ingin juga merasakan bangun pagi, bahkan subuh, tentunya di sebelahmu. Atau terbangun tengah malam, bukan untuk menulis surat ini, tapi karena si Kinan kecil nangis. Aku juga ingin merasakan kau cerewet saat aku terlambat pulang. Juga ingin mencoba resep-resep masakan barumu. Ingin menangis sebelum tidur saat aku bercerita ada anak yang kini tak bersekolah, lalu kau memeluku dari samping, menghapus air mataku, menyuruhku untuk tidur, dan diakhiri ciumanmu pada keningku. Aku juga ingin, Kinan. Sungguh sayang. Apa benar aku tak pantas mendapatkannya. Darimu, darimu Kinanti. Seberapa besar kesalahanku, hingga kau tak lagi mau tahu apa yang aku katakan, hingga kau tak pernah memikirkan apa yang aku selalu ceritakan, apa kau dengar, kau dengar Kinan.

Kinanti,
Kemarahan ku ini semata-mata aku merindumu, aku menunggu, menunggu pagi yang menggantikan malam jelek ini. Sungguh aku tak bisa hilangkan bayangmu, sayang. Kenangan lama kita. Tentang cerita-cerita kita saat nanti kita bersama. Cerita tentang ketika malam sudah usai kau bangunkan aku yang tidur di sebelahmu, saat pagi bahkan subuh. Atau cerita, kau akan siap menjaga si Kinan kecil seharian, bahkan malam meski kau telah lelah, dan aku berjanji sama. Aku ingat ceritamu, kau akan banyak bicara kalau aku terlambat pulang, dan saat itu aku berjanji tak akan terlambat pulang. Sungguh indah masa itu, masa di mana aku ingin menjadi orang yang pertama merasakan resep makanan barumu. Alangkah bahagianya, janjimu yang akan menungguku tertidur karena segala keluh kesahku yang membuat lelah, aku tak lupa Kinan. Aku ingin menjadi orang yang pantas di sisimu. Di sampingmu, Kinanti. Aku tak ingin membuat kesalahan. Kesalahan yang membuatmu tak ingin lagi mendengarkan semua perkataanku, memikirkan semua ceritaku, aku ingin kau selalu dengar, selalu dengar Kinan.

Kinanti,
Malam ini sungguh jelek, malam antara kamis dan jumat, malam selepas hujan menderu dari sore, malam tanpa suara jangkrik, malam tanpa bintang, tanpa bulan. Tapi berterimaksihlah, karena malam ini aku menulis, tepat di tengahnya. Untukmu, ceritaku.

09 Maret 2012 – 00.49 WIB
READ MORE - Kinanti - #8

Kinanti - #7

Selamat pagi Kinanti, matahari pasti menyapamu dengan hangat, atau burung sedang menyanyikanmu sebuah lagu dengan kicaunya, juga para bunga yang menebar senyum dengan warna-warna cantiknya.

Kinanti,
Apa kau ingat Aryo teman kita waktu dulu, teman saat kita mendaki semeru. Orangnya kecil tak terlalu besar, tingginyapun tak jauh beda dengan kau. Ingat kau, Kinan. Cobalah kau ingat-ingat lagi. Orang yang tak banyak bicara dengan kacamata berlensa cukup tabal untuk ukuran remaja seumuran kita dulu. Dengan celana panjang coklat dan kemeja putih, yang kita anggap dia adalah manusia paling jenius yang pernah ada, mengalahkan Einstend. Sudah ingat, Kinan. Tunggu, mungkin kau ingat, dia pernah menambakan bunga-bunga di taman kita. Pohon-pohon kecil dan beberapa pohon buah. Saat itu kau menyangka aku yang melakukannya. Yah, Aryo, semoga saja kau ingat, Kinan. Tak sengaja kemarin aku bertemu dengan mantan calon istrinya saat dulu kita bersama. Dia bercerita Aryo telah meninggal dunia, Kinan. Dia overdosis.  Begitu cepatnya waktu, saat semua berpisah banyak yang berubah. Aryo jadi pemakai karena lingkungannya juga berubah. Dia bekerja di tempat yang banyak pemakainya. Orang baik seperti dia saja dapat pula berubah menjadi seperti itu, Kinan, akibat lingkungannnya, akibat tak dapat mengontrol diri. Sudah cukup dewasakah kita semua untuk ini. Sampai kapan, Kinan, sampai kapan. Aku tak ingin seperti dia, Kinan. Aku tak mau memandang dunia dengan cara mereka. Kau yang memberiku kekuatan seperti ini, kau yang dapat membantuku mengalahkan waktu, janji mu itu, Kinan, janjimu. Semoga kau ingat.

Maaf, emosiku sedang tidak stabil. Aku terlalu jenuh, semua bayangan hanya dirimu. Pekerjaan ini tak dapat mengalahkan ingatanku padamu. Bahkan kesibukanku ini, Kinan. Kau harus tahu sekarang. Maafkan aku.

Kinanti,
Kemarahanku ini bukan seutuhnya untukmu, ini pun untuk dunia. Untuk mereka yang tak pernah mengerti. Untuk Aryo yang tak tahu hidup itu begitu singkat. Untuk mantan calon istrinya yang aku tahu tangisannya tak berhenti sejak seminggu Aryo mati. Untuk aku yang tak tahu betapa rindu itu sangat indah, yang tak pernah tahu rindu itu sebagian dari rasa cinta, rasa yang kuat untuk apa yang disebut. Untuk taman kita. Rasa marah itu sekarang bagian dari rinduku, Kinan. Aku ingin menikmati kamarahanku, menikmati rinduku, dengan tak satu pun aku tahu tentang dunia, tentang harapan, tentang kenangan, bahkan tentang cinta. Aku cuma ingin kau tahu betapa aku merindu dengan kemarahanku, Kinan. Rindu yang sejadi-jadinya, marah dengan senikmat-nikmatnya. Aku ingin kau disini lagi, melihat kemarahanku, melihat rinduku. Tenangkan marahku, hilangkan rinduku. Bersama pelukanmu sebagai senjata dimana aku selalu tak bisa tak menyerah. Tapi sayang kau tak ada di sini, di dekatku. Bahkan bangku dan lampu, bunga dan akasia. Mereka, mereka, aku merindu mereka Kinan. Aku akan menjenguk mereka, Kinan. Aku lupa mereka sudah tak ada, lampu-lampu kota, gedung-gedung tinggi yang sekarang bercerita. Tak ada akasia, tak ada bunga jingga, tak ada lampu, tak ada bangku, tak ada kau, tak ada kau, tak ada kau, Kinanti, tak ada kau.

Aku tak tahu kenapa hari ini begitu emosi buatku, begitu memuncak kemarahanku, begitu terasa rasa rinduku. Hari ini minggu, dan aku hanya aku yang yang tak datang pada pasar seni semalam, aku tak begitu enak badan, aku sakit ringan, jangan khawatir, Kinan, aku menyayangimu.

21022012-11.17
READ MORE - Kinanti - #7

Kinanti - #6

Selamat malam Kinanti,
Maaf aku baru mengabarimu lagi. Beberapa bulan kebelakang aku memang sedang menjadi pribadi yang disibukan segalanya. Pekerjaanku dan beberapa kegiatan baru. Aku tidak menghilang.

Kinanti,
Aku telah mencicil rumah sekarang. Rumah yang sepatutnya menjadi rumah kita, dengan tangisan kinanti kecil atau si jago. Tapi sayang kau tak ada. Rumah ini sungguh sangat tak berharga tanpamu, Kinan. Sungguh menjadi sangat sepi. Tapi kau jangan merasa bersalah, aku tetap menunggumu.  Akan ku sambut kau di rumah. Kau pasti kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku melakukan apa yang kau ingin perbuat saat kau punya rumah sendiri. Bunga-bunga warna-warni di halaman tanpa pagar. Satu pohon mangga besar dengan buah yang manis, tapi sayang pohonnya masih kecil, tapi ketika kau pulang pohonnya tentu sudah besar dan berbuah. Dua kursi dan satu meja di depan rumah tempat kita minum teh saat sore. Dan kamar kita yang ketika bangun akan langsung menghadap matahari terbit. Kau pasti suka. Segeralah kembali, aku menunggumu.

Kinanti,
Sudah empat kali aku memimpikanmu dalam seminggu ini. Mengenang kita saat bersama naik sepeda. Dan aku pasti terbangun saat kau mencoba belajar dan terjatuh. Aku ingat saat itu kau tak pernah berhenti mencoba. Membangunkan sepeda lalu kembali naik, meski kedua lututmu berdarah dan telapak tanganmu lecet. Aku tak pernah melarangmu lagi saat kau sangat marah, saat itu aku mencoba menghentikanmu. Aku tak tahu kenapa kau melarangku saat itu, tapi kini aku mengerti, kau hanya ingin dapat naik sepeda tanpa bantuan. Kau memang keras kepala, Kinan. Tapi mungkin itu yang menjadikanmu perempuan yang tak bisa dihilangkan dalam pikiranku. Dan aku memang tak mau kau menghilang, aku sayang kamu.

Kinanti,
Aku juga punya berita buruk untukmu, berat badanku turun. Pekerjaanku yang membuatnya. Aku terlalu dipusingkan dengan berbagai macam persoalan. Terlalu banyak berita yang ingin aku sampaikan pada koran, tapi otakku tak mampu menuliskannya semua. Aku terlalu lelah untuk itu. Persoalan yang tak penting, tentang anak yang diadili gara-gara sandal, pembantu yang dituduh mencuri piring majikannya yang padahal piring itu pemberiannya, atau tentang polisi yang mabuk lalu menembakan pistolnya kearah temannya sendiri hingga tewas, dan banyak lagi kejadian yang sungguh tidak penting. Aku ingin kau di sini, Kinan. Memelukku seperti dulu, saat aku menangis menceritakan seorang nenek yang mati akibat kelaparan, kaupun ikut menangiskan, malah kau yang tak hentinya mengucurkan airmata. Betapa lembutnya hatimu, sayang.

Sudah malam Kinan, maafkan aku cuma bisa mengabarimu tentang ini. Jangan marah Kinanti, nanti akau ku lanjutkan cerita-ceritaku. Selamat malam, tidurlah yang nyenyak. Aku mencintaimu.

20022012-20.30
READ MORE - Kinanti - #6

Kinanti, aku menikmati permasalahan hidup yang aku nikmati - #5

Untuk Kinanti,

Selamat pagi kinanti, aku menulis surat ini selepas tidur yang mengikatku tadi malam. Semoga suratku sampai pagi hari, karena kamu tahu pagi sangat indah untuk dinikmati bersama kicau burung dan hangat matahari yang baru, bersama sepoci teh manis hangat dan dirimu duduk di sebelahku.

Kinanti, aku telah lama tidak mengirim surat kapadamu, bukan karena aku lupa. Aku tak bisa berfikir jernih sekarang-sekarang ini, pekerjaan yang membuat hidup yang setadinya merasa bebas kini harus menjadi serasa terikat. Hidup yang selalu berusaha membuat diriku tak karuan, entah permainan apa yang di lakukan Tuhan terhadapku. Aku kini menjadi seorang yang lebih banyak berserah atau tepatnya aku menjadi pemalas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ku dapatkan. Aku tidak seambisius dahulu. Aku hampir kehilangan pekerjaanku karena ini. Aku tak dapat fokus terhadap apa yang sedang aku kerjakan. Daedline, besok harus terbit, atasan marah, teman sekantor tak membantu, anak jalanan, semeraut negara, dan bla bla bla yang selalu ada setiap hari. Ahh aku memang sudah tidak dapat menjalankan rutinitas yang selalu berulang setiap harinya, sekiranya aku tahu aku tidak menyukai hidup seperti ini. Semoga kau disana baik-baik saja.

Kinanti, hidup memang harus dijalani sepertimu yang selalu menikmati hidup. Akupun tak lepas dari caraku kini menikmati hidup dengan segala permasalahan diriku sendiri terhadap hidup yang aku nikmati. Ada sesuatu dari hidupku yang sedikit menyenangkan akhir-akhir ini, aku kini lebih sering hidup diluar rumah, di jalan, di rumah teman, di sanggar, di tempat dulu kita mengajar, dan di beberapa tempat yang jauh dari rumah. Tapi aku merasa bahagia hidup diluaran sana, dengan rasa tali persaudaraan yang kuat dan satu sama rasa yang didapat. Ini menjadi sebagian kenikmatan dari permasalahan hidup yang selalu aku jumpai setiap hari. Menjadikan kebosanan rutinitas yang tak kunjung berubah setiap harinya, dan aku ingin selalu menikmati.

Kinanti, pasti kau tidak pernah menyukai surat ini yang tak terlampir terhadapmu karena semua kehidupanku. Kita memang tidak dapat mengetahui bagaimana kita hidup kedepannya kelak, kita tidak bisa selalu menginginkan kehidupan yang kita kehendaki, tapi kita dapat merubahnya dengan menikmati kehidupan yang diberikan, nikmatilah kehidupanmu Kinanti, aku mencintaimu.
READ MORE - Kinanti, aku menikmati permasalahan hidup yang aku nikmati - #5

Kinanti, pantai bukan tempat indah untuk menuliskan mu - #4

Kinanti, sudah berapa suratku yang tak sampai padamu? Semoga mereka tak pernah sampai, karena aku tak menginginkannya.

Kinanti, pernah tidak kau mendengar suara desir ombak di pantai? Aku tak pernah tahu itu, karena dulu kita tidak pernah bermain air asin laut atau merasakan panas pasir juga semilir angin sejuk pantai. Yang aku tahu kau tidak menyukainya. Kau lebih suka berdiam di tempat penuh pohon dan juga bunga. Itu tempat favoritmu. sejuka dan harum katamu. Kemarin lusa aku pergi ke tempat yang kau tak suka, bermain pasir dan mengejar ombak.Sekarang aku tahu kenapa kau tidak menyukainya, mungkin kau telah pergi ke tempat itu dan merasakan suasananya. Memang sejuknya angin pesisir tidak semerbak hembusan oksigen dari pepohonan dan tak tercium sedikitpun wangi indah bunga seperti di taman kita, hanya bau terik matahari yang menyebar di setiap langkah kaki. Aku sendiri tak mengeri kenapa banyak orang yang senang memanjakan dengan air dari pesisir atau dengan gelombang ombak yang pecahkan karang. Mungkin kau sendiri tahu kenapa mereka seperti itu? Atau ini memang hanya rahasia mereka? Kau wanita penyuka bunga sejati yang aku cintai.

Kinanti, aku sekarang sedang bingung, aku hampir lupa bagaimana cara menulis berita, aku menjadi gelisah tentang semua tulisan-tulisanku, entah karakter yang seperti apa yang aku mau. Mungkin kalau kau ada disini kau akan memarahiku. Ku ingat dulu saat aku menulis tak karuan kau anggap itu adalah tulisan yang paling bagus yang aku tulis. Padahal saat itu aku hanya menulis setiap kata yang telintas dalam otakku, untuk menjadi sebuah kalimatpun itu tidak dianggap benar oleh guru bahasa Indonesia. Tapi kau menyukainya, dengan alasan itu adalah tulisan yang berasal dari hati nuraniku sendiri, tak ada godaan atau paksaan untuk buatku menulis. Aku sendiri tidak mengerti jalan pikiranmu yang selalu menyerukan kebebasan, padahal kau sendiri tak bebas dengan segala kegiatanmu yang kadang membuat dirimu menjadi sakit karena meupakan makan. Hanya senyummu yang aku tahu, itu yang memberikan arti kebebasan dalam setiap hela nafasmu, atau pada setiap jengkal langkah kakimu dalam berkarya. tak akan pernah ku lupa pesanmu saat aku terjatuh karena semua tulisanku, "menjadi baik itu bukan dengan tulisan yang disukai banyak kalangan, tapi bagaimana kau menulis itu semu dengan jujur tanpa sedikitpun ada paksaan dari orang lain". Itu yang selalu membuatku merindu akan tulisanku.

Kinanti, Jangan kau selalu bersembunyi sayang, cobalah kau tatap aku dengan dekat, sama seperti saat kau mencium keningku dahulu. Jangan kau tutupi wajahmu itu, pancarkanlah cahaya cinta dari sisi gelapku untuk terangi jalan kita berdua. Datanglah, akan kusiapkan mantel untuk melawan cuaca dingin saat malam di taman.

READ MORE - Kinanti, pantai bukan tempat indah untuk menuliskan mu - #4

Kinanti, berita dan Donna Donna itu mengingatkanku - #3

Kinanti, apakah kau membaca surat-suratku? Entah sepertinya kau tak akan pernah membacanya, karena semua surat itu hanya kusimpan di dalam lemari pakaianku yang ku kunci, dan ku bawa kuncinya setiap hari.

Kinanti, malam ini aku tidak bisa tidur, padahal aku sedang berada pada keadaan lelah. Tadi pagi aku harus bekerja ekstra untuk mendapatkan berita. Aku masih bingung, masyarakat senang dengan wacana-wacana yang tak bermutu sekarang, mereka senang dengan berita-berita yang menyudutkan seorang atau kelompok dan pimpinan redaksipun menyukainya, demi kelangsungan majalah dan kehidupannya, katanya. Tapi itu semua tak jujur, bukan kebiasaanku untuk mencela orang. Kau ingat waktu ibuku dulu membicarakan tetanggaku yang terlalu bermewah-mewah dengan hartanya. Aku menegur ibuku, bukan karena aku membencinya, aku tak suka dia membicarakan kejelekan orang lain, dan kau juga menegurku karena kau tak suka caraku menegur ibu.

Kinanti, entah kenapa malam ini aku sangat merindumu, mungkin dalam playlistku terdengar lagu Donna Donna dari Joan Baez. Lagu itu kau berikan saat aku sedang marah akibat mendengar kabar terjadi penindasaan yang dilakukan orang kaya yang dihutangi orang miskin yang lama membayar akibat kemiskinannya. Kau memang sangat mengerti kenapa lagu itu diciptakan. Kau ingin menunjukan betapa pentingnya kebebasan, betapa pentingnya bertindak, dan bukan mengeluh marah-marah atas kejadian atau nasib buruk, kau sangat paham arti lagu itu. Apakah kau masih mendengarkan Donna Donna juga disana? Aku merindumu karena Donna Donna.

Kinanti, semoga tidak kau lupa.

Jum'at 10 Juni 2011
READ MORE - Kinanti, berita dan Donna Donna itu mengingatkanku - #3

Kinanti, di stasiun itu aku menunggu - #2

Kinanti ini surat ku yang kedua untukmu.

Kinanti, dulu kita pernah berjanji didepan stasiun kereta saat kau hendak pulang kampung. Stasiun yang berjarak 2km dari taman bunga kita, bunga jingga dan pohon akasia. Stasiun yang sedang ramai berita, para partai berusaha berkuasa, berebut kursi pada parlemen di dalam negri bahkan di luar. Mereka berkampanye, menyerukan agar mereka dipilih. Entah dipilih untuk apa saat itu, karena aku hanya ingat pada janji kita berdua. Janjimu yang akan kembali setelah selesai menjenguk semua keluarga, dan janjiku kepadamu setelah pulang akan nikahi dirimu. Dan ke dua janji itu tidak terbukti, aku mengingkari janjiku karena dirimu mengingkari janjimu.

Kinanti, saat keretamu berangkat aku melihat seorang pria paruh baya sedang dipukuli. Pria dengan janggut lebat dan rambut sedikit gimbal itu mencuri sekotak bungkus nasi di warung Bu Gita kata orang bilang. Muka pria itu biru, bibirnya bengkak, bahkan banyak goresan-goresan kecil yang mengakibatkan darahnya keluar. Aku tak tega melihat pria itu, adaikan aku orang yang berpengaruh aku akan bela pria itu. Setelah pria pingsan dan dibuang dari stasiun aku menolongnya. Aku bawa dia ke rumah dan aku obati lukanya. Setelah pria itu sadar aku makan bersamanya dan bertanya kenapa dia mencuri. Dia menjawab, anaknya yang ke 2 sakit dan anaknya perlu makan untuk kesembuhannya, dia tak punya uang untuk membeli. Kamu tahu tidak, tenyata pria itu ayah dari anak yang aku temui di bangku, di taman bunga kita saat aku menunggumu.

Kinanti, 6 tahun pada tanggal awal bulan aku selalu menunggumu di stasiun itu.

Kamis, 2 Juni 2011
READ MORE - Kinanti, di stasiun itu aku menunggu - #2

Kinanti, bangku lampu bunga dan akasia bercerita - #1

Kinanti, maaf aku tak bisa memberi bunga malam kemarin, maaf juga aku sering bercerita surga. Sore lalu aku menunggumu ditempat kita bertemu, aku bawakan coklat dan sekeranjang buah, aku menunggumu manis. Hingga hujan dan malam mengguantikan sore berawan, aku tetap merindu dimana kita bertemu dan menghabiskan waktu. Lampu param teman setia di kala ribuan air menetes perlahan, aku masih setia menunngu dibangku 6 tahun yang lalu. 2 jam tanpa jas hujan dan perapian, hanya jaket warisan dan angin malam menggeliat pada tubuh yang menggigil. Suhu udara berkisar antara 24 derajat celcius dengan sesekali suara bising kereta yang menyapa.

Kinanti, tadi ditempat kita dulu ada anak 8 tahun kedinginan sama sepertiku. Dia belum makan dari tiga hari yang lalu saat hari rabu. Maaf sekeranjang buah itu untuknya. Mukanya pucat sepertinya penyakit yang di deritanya kumat, entah penyakit apa yang jelas wajahnya hampir membiru. Dia menitip salam dan doa untukmu. Dia juga berterimakasih kepadamu, karena sekeranjang buah itu. Dia berbisik, sekeranjang buah itu untuk adiknya yang sakit dirumah.

Kinanti, ingat pada bunga sebelah bangku yang tepat dibawah lampu. Kita beri nama jingga 6 tahun lalu, kini aku sedang memutar-mutarnya sepertimu saat menungguku dulu. Atau ingat pada pohon akasia raksasa, yang terletak 7 meter dibelakang bangku, ayunannya masih sama saat kau terjatuh dulu, saat senja sebelum purnama.

Kinanti, kita tidak akan pernah bertemu kembali. Bunga jingga dan pohon akasia telah tiada. Bangku dan lampu telah berubah. Nafsu kota berbicara.



Entah apa ini, esai, cerpen, puisi, prosa, dan lainnya.
Hasil ejakulasi pemikiran dan sedikit banyak perasaan tentang kerinduan terhadap karya penuh cinta dan surga.
3 Mei '11 22.31
READ MORE - Kinanti, bangku lampu bunga dan akasia bercerita - #1