Kinanti, Surat Penutup
Kinanti #10, Apa Reinkarnasi Itu Ada?
Kalau flu, emang lagi musimnya sih. Kemarin flu sempat hinggap padaku. Tidak enak rasanya harus terus minum setiap saat, tenggorokan kering, mulut kena sariawan. Tapi untung sudah berakhir penderitaan. Tinggal sekarang aku mau tanya.
Kinan, kapan terkahir kali kamu berfirkir ingin reinkarnasi?
Aku baru saja berfikir seperti itu. Enak rasanya kalau jadi kupu-kupu, tak merasakan hidup bertahun-tahun. Cukup singkat tapi dikagumi, tak pernah dipusingkan harus berbuat apa ketika tak diberi tugas tetap. Yah karena memang tugas kupu-kupu cukup untuk dikagumikan.
Kinan, ingat tidak saat di lapang sepakbola, saat kamu ingin melihat anak-anak berlatih. Mereka berlari mengejar bola tanpa ada beban. Mereka hanya fokus bermain tidak peduli sekeliling, bahkan ayah ibu mereka yang mengantarkan. Lalu saat itu kau berkata, "Aku ingin seperti mereka, yang terus bermain. Aku tak pernah ingin menjadi saat ini. Terlalu banyak keinginan. Anak-anak terlalu sederhana, aku ingin."
Kinan, kini aku mengerti apa magsud katamu saat itu. Sesederhanakah hidup kita, hanya manusia dengan hati yang mampu menjawab.
Kinan, coba tebak aku ingin reinkarnasi manjadi apa? Bukan kupu-kupu. Aku ingin menjadi fungi, iya jamur. Aku rindu kamu, Kinanti.
Bandung, 17 Maret 2015
Saat di kantor semua sibuk dengan tugasnya, tapi sendirinya bengong.
Kinanti #9, Kita Yang Menentukan Hidup
Malam Kinan, sudah berapa musim aku tak kirimimu surat. Aku tak lupa, hanya sedang malas untuk bercakap dengan tulisan. Sekarang sudah hampir mau musim hujan lagi dan aku ingin kamu tahu, aku merindukanmu, lagi.
Katakanlah malam ini akhir hidupku, apa yang kau inginkan didetik terakhir ku hidup? Apa kau ingin kembali tertidur dibahuku? Kau ingat, saat dulu kau menangis karena ucap temanmu soal hidup? Saat temanmu bicara semua telah ditentukan takdir, tapi kau tak percaya hidup ditentukan hanya oleh apa yang sudah tertulis. Saat itu kau bilang, kalau ini takdir kita tak bisa salahkan Hitler yang fasis karena ini telah ditentukan. Kau bilang takdir itu tidak ada, yang ada hanya bagaimana kita bisa hidup dan menjalaninya. Aku percaya kamu. Tapi temanmu dengan segala argumen sampahnya terus berkoar dan menghubung hubungkannya dengan agama dan kitabnya. Kau sendiri bilang kita ini hidup berdasarkan naluri kemanusian kita dan agama itu masalah personal, tak ada yang bisa menentukan hidup. Aku percaya kamu. Kalaupun semua yang baik itu menyenangkan kenapa harus ada yang ditakdirkan untuk menjadi jahat, menjadi pembunuh, pencopet, juga koruptor. Semua ini masalah ekonomikan, kamu yang membuatku tahu bahwa bertahan hidup itu adalah naluri makhluk yang bernyawa. Hidup ditentukan oleh kita sendiri, jalan lurus atau berkelok yang akan kita ambil. Kalau semua ditentukan takdir, kenapa tak semua dibikinkan jalan lurus agar tak ada yang salah jalan dan mungkin kita akan hidup santai menarik oksigen. Kamu yang meyakinkanku hidup kita ditentukan oleh kita, bukan menunggu takdir. Aku percaya kamu.
Kalau kau ada di sini, aku yang ingin tertidur di bahumu sekarang, Kinan.
10 Oktober 2013, Rancaekek
Kinanti - #8
Kinanti - #7
Kinanti - #6
Kinanti, aku menikmati permasalahan hidup yang aku nikmati - #5
Kinanti, pasti kau tidak pernah menyukai surat ini yang tak terlampir terhadapmu karena semua kehidupanku. Kita memang tidak dapat mengetahui bagaimana kita hidup kedepannya kelak, kita tidak bisa selalu menginginkan kehidupan yang kita kehendaki, tapi kita dapat merubahnya dengan menikmati kehidupan yang diberikan, nikmatilah kehidupanmu Kinanti, aku mencintaimu.Kinanti, pantai bukan tempat indah untuk menuliskan mu - #4
Kinanti, pernah tidak kau mendengar suara desir ombak di pantai? Aku tak pernah tahu itu, karena dulu kita tidak pernah bermain air asin laut atau merasakan panas pasir juga semilir angin sejuk pantai. Yang aku tahu kau tidak menyukainya. Kau lebih suka berdiam di tempat penuh pohon dan juga bunga. Itu tempat favoritmu. sejuka dan harum katamu. Kemarin lusa aku pergi ke tempat yang kau tak suka, bermain pasir dan mengejar ombak.Sekarang aku tahu kenapa kau tidak menyukainya, mungkin kau telah pergi ke tempat itu dan merasakan suasananya. Memang sejuknya angin pesisir tidak semerbak hembusan oksigen dari pepohonan dan tak tercium sedikitpun wangi indah bunga seperti di taman kita, hanya bau terik matahari yang menyebar di setiap langkah kaki. Aku sendiri tak mengeri kenapa banyak orang yang senang memanjakan dengan air dari pesisir atau dengan gelombang ombak yang pecahkan karang. Mungkin kau sendiri tahu kenapa mereka seperti itu? Atau ini memang hanya rahasia mereka? Kau wanita penyuka bunga sejati yang aku cintai.
Kinanti, aku sekarang sedang bingung, aku hampir lupa bagaimana cara menulis berita, aku menjadi gelisah tentang semua tulisan-tulisanku, entah karakter yang seperti apa yang aku mau. Mungkin kalau kau ada disini kau akan memarahiku. Ku ingat dulu saat aku menulis tak karuan kau anggap itu adalah tulisan yang paling bagus yang aku tulis. Padahal saat itu aku hanya menulis setiap kata yang telintas dalam otakku, untuk menjadi sebuah kalimatpun itu tidak dianggap benar oleh guru bahasa Indonesia. Tapi kau menyukainya, dengan alasan itu adalah tulisan yang berasal dari hati nuraniku sendiri, tak ada godaan atau paksaan untuk buatku menulis. Aku sendiri tidak mengerti jalan pikiranmu yang selalu menyerukan kebebasan, padahal kau sendiri tak bebas dengan segala kegiatanmu yang kadang membuat dirimu menjadi sakit karena meupakan makan. Hanya senyummu yang aku tahu, itu yang memberikan arti kebebasan dalam setiap hela nafasmu, atau pada setiap jengkal langkah kakimu dalam berkarya. tak akan pernah ku lupa pesanmu saat aku terjatuh karena semua tulisanku, "menjadi baik itu bukan dengan tulisan yang disukai banyak kalangan, tapi bagaimana kau menulis itu semu dengan jujur tanpa sedikitpun ada paksaan dari orang lain". Itu yang selalu membuatku merindu akan tulisanku.
Kinanti, Jangan kau selalu bersembunyi sayang, cobalah kau tatap aku dengan dekat, sama seperti saat kau mencium keningku dahulu. Jangan kau tutupi wajahmu itu, pancarkanlah cahaya cinta dari sisi gelapku untuk terangi jalan kita berdua. Datanglah, akan kusiapkan mantel untuk melawan cuaca dingin saat malam di taman.
Kinanti, berita dan Donna Donna itu mengingatkanku - #3
Kinanti, malam ini aku tidak bisa tidur, padahal aku sedang berada pada keadaan lelah. Tadi pagi aku harus bekerja ekstra untuk mendapatkan berita. Aku masih bingung, masyarakat senang dengan wacana-wacana yang tak bermutu sekarang, mereka senang dengan berita-berita yang menyudutkan seorang atau kelompok dan pimpinan redaksipun menyukainya, demi kelangsungan majalah dan kehidupannya, katanya. Tapi itu semua tak jujur, bukan kebiasaanku untuk mencela orang. Kau ingat waktu ibuku dulu membicarakan tetanggaku yang terlalu bermewah-mewah dengan hartanya. Aku menegur ibuku, bukan karena aku membencinya, aku tak suka dia membicarakan kejelekan orang lain, dan kau juga menegurku karena kau tak suka caraku menegur ibu.
Kinanti, entah kenapa malam ini aku sangat merindumu, mungkin dalam playlistku terdengar lagu Donna Donna dari Joan Baez. Lagu itu kau berikan saat aku sedang marah akibat mendengar kabar terjadi penindasaan yang dilakukan orang kaya yang dihutangi orang miskin yang lama membayar akibat kemiskinannya. Kau memang sangat mengerti kenapa lagu itu diciptakan. Kau ingin menunjukan betapa pentingnya kebebasan, betapa pentingnya bertindak, dan bukan mengeluh marah-marah atas kejadian atau nasib buruk, kau sangat paham arti lagu itu. Apakah kau masih mendengarkan Donna Donna juga disana? Aku merindumu karena Donna Donna.
Kinanti, semoga tidak kau lupa.
Jum'at 10 Juni 2011
Kinanti, di stasiun itu aku menunggu - #2
Kinanti, dulu kita pernah berjanji didepan stasiun kereta saat kau hendak pulang kampung. Stasiun yang berjarak 2km dari taman bunga kita, bunga jingga dan pohon akasia. Stasiun yang sedang ramai berita, para partai berusaha berkuasa, berebut kursi pada parlemen di dalam negri bahkan di luar. Mereka berkampanye, menyerukan agar mereka dipilih. Entah dipilih untuk apa saat itu, karena aku hanya ingat pada janji kita berdua. Janjimu yang akan kembali setelah selesai menjenguk semua keluarga, dan janjiku kepadamu setelah pulang akan nikahi dirimu. Dan ke dua janji itu tidak terbukti, aku mengingkari janjiku karena dirimu mengingkari janjimu.
Kinanti, saat keretamu berangkat aku melihat seorang pria paruh baya sedang dipukuli. Pria dengan janggut lebat dan rambut sedikit gimbal itu mencuri sekotak bungkus nasi di warung Bu Gita kata orang bilang. Muka pria itu biru, bibirnya bengkak, bahkan banyak goresan-goresan kecil yang mengakibatkan darahnya keluar. Aku tak tega melihat pria itu, adaikan aku orang yang berpengaruh aku akan bela pria itu. Setelah pria pingsan dan dibuang dari stasiun aku menolongnya. Aku bawa dia ke rumah dan aku obati lukanya. Setelah pria itu sadar aku makan bersamanya dan bertanya kenapa dia mencuri. Dia menjawab, anaknya yang ke 2 sakit dan anaknya perlu makan untuk kesembuhannya, dia tak punya uang untuk membeli. Kamu tahu tidak, tenyata pria itu ayah dari anak yang aku temui di bangku, di taman bunga kita saat aku menunggumu.
Kinanti, 6 tahun pada tanggal awal bulan aku selalu menunggumu di stasiun itu.
Kamis, 2 Juni 2011
Kinanti, bangku lampu bunga dan akasia bercerita - #1
Kinanti, tadi ditempat kita dulu ada anak 8 tahun kedinginan sama sepertiku. Dia belum makan dari tiga hari yang lalu saat hari rabu. Maaf sekeranjang buah itu untuknya. Mukanya pucat sepertinya penyakit yang di deritanya kumat, entah penyakit apa yang jelas wajahnya hampir membiru. Dia menitip salam dan doa untukmu. Dia juga berterimakasih kepadamu, karena sekeranjang buah itu. Dia berbisik, sekeranjang buah itu untuk adiknya yang sakit dirumah.
Kinanti, ingat pada bunga sebelah bangku yang tepat dibawah lampu. Kita beri nama jingga 6 tahun lalu, kini aku sedang memutar-mutarnya sepertimu saat menungguku dulu. Atau ingat pada pohon akasia raksasa, yang terletak 7 meter dibelakang bangku, ayunannya masih sama saat kau terjatuh dulu, saat senja sebelum purnama.
Kinanti, kita tidak akan pernah bertemu kembali. Bunga jingga dan pohon akasia telah tiada. Bangku dan lampu telah berubah. Nafsu kota berbicara.
Entah apa ini, esai, cerpen, puisi, prosa, dan lainnya.3 Mei '11 22.31
Hasil ejakulasi pemikiran dan sedikit banyak perasaan tentang kerinduan terhadap karya penuh cinta dan surga.


