Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kinanti, Surat Penutup


Surat penutup

Kinanti, apa kabar?
Aku yakin kau baik dan sangat bahagia dan aku pun merasakan kalau kau sedang dilanda rasa terima kasih kepada Tuhan. Hidup sudah begitu sempurnakah? Aku merasakan apa yang rasakan meski tak pernah bertemu lagi.

Kinanti,
kau tahu apa yang aku ingin kan dari dulu. Tentang menjadi seekor burung yang bisa terbang tanpa lampu merah di setiap perempatan, tanpa bunyi kelakson di setiap pemberhentian.  Kau tahu burung dapat hingap di mana saja tanpa perlu merasa khawatir. Ia dapat mencari makan sendiri tanpa harus sibuk mencari dulu alat tukarnya. Apa kau pernah lihat burung mati kelaparan, Kinan? Burung hanya mati kalau diterkan pemangsa, atau ditembak manusia, atau sudah waktunya.

Kinan, aku benar ingin menjadi burung. Kalau saja reikarnasi itu benar ada, aku akan memohon kepada tuhan untuk menjadi burung.

Tidak! Aku cuma ingin menjadi burung elang. Gagah, kuat, dan ditakuti. Aku tak mau menjadi butung gereja, atau burung pipit yang mencuri padi petani. Aku ingin menjadi burung elang yang melayang berputar di kaki langit, bersuara lengking yang berkesan bijaksana. Siapa lagi burung dengan kasta tertinggi selain elang? Tak ada Kinan, tak ada. Kalau ada pun, aku tetap mau menjadi elang yang akan setia kepada pasangannya. Burung paling setia, burung gagah melambangkan cinta.

Kinanti,
aku benar benar ingin bertemu denganmu, sekali saja, sebentar saja. kalau boleh tidak mengatakan apa pun, karena aku pun sama tidak akan mengeluarkan sepatah kata. Aku hanya ingin melihatmu saja, Kinan. Melihat senyum manismu, melihat rambut panjang hitammu, melihat lentik jarimu, melihatmu utuh tanpa halanga, tanpa jarak, tanpa waktu. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu, sedikitpun tak akan, Kinan. Kalau aku menyentuhmu boleh kau panggil polisi untuk menangkapku, penjarakan aku, siksa aku, tapi satu pintaku, ingin melihatmu dari dekat.

Kinanti,
Aku baru selesai dari drama drama menyedihkan hidup. Aku sudah bisa berjalan meski terseok. Aku tak mau berlari, aku tak punya sepatu, mana bisa aku berlari tanpa sepatu. Siapa orang yang berlari tanpa sepatu, siapa, Kinan? Kalau ada, kaki orang itu pasti terluka, berdarah darah hingga harus diamputasi. Aku tak mau seperti itu. Cukup saja kau berjalan perlahan, menikmati udara kiri kanan, menikmati semburan sinar matahari yang hampir padam. Tanpa drama drama setingan dengan skrip murahan. Aku mau terbebas sepenuhnya dari itu.

Cuaca sore yang cerah adalah hal yang paling sempurna. Itu katamu waktu dulu, Kinan. Kata yang selalu aku ingat dan selalu aku simpan dalam hati. Aku tak penah lupa kata katamu yang selalu menuntunku untuk pergi sejenak, tinggalkan rutinitas, nikmati setiap detik dalam hidupmu. Tapi aku menyesal karena dulu tak pernah menurutinya. Aku benar menyesal, Kinan. Apakah ada sedikit harapan untuk mempebaikinya.

Tidak, Kinan. Aku tidak bisa memperbaikinya sendiri. Aku mau memperbaikinya denganmu, berdua bersama mengikuti apa yang selalu kau katakan. Menikmati setiap detik berdua, bersama. Apakah akan bisa terjadi seperti itu, Kinan? Tolong jawab, tolong. Aku mau memperbaikinya. Aku mau kau ada di sini, Kinan. Aku tak mau membuat surat surat untuk mu seperti ini. Aku mau mengatakannya langsung tanpa kertas dan pena.

Aku mau berhadapan denganmu di meja makan, membicarakan apa yang telah kita lakukan hari ini. Aku mau menikmati masakanmu yang selalu kau ceritakan. Resep masakan warisan orang tuamu yang merupakan hasil warisan nenekmu. Aku mau itu, Kinan. Dengan bunyi sendok yang berada piring, aku ceritakan suasana kantorku dan kau ceritakan gaduhnya kelasmu. Lalu kau akan tertawa saat menceritakan seorang muridmu yang menari nari kegirangan saat melihat hasil pekerjaanya diberi penghargaan olehmu. Aku ingin seperti itu, Kinan. Kumoho, Kinan, aku memohon.

Kinanti,
aku memang orang yang naif. Aku selalu ingin semua keinginanku tercapai. Namun aku lupa tidak semua yang kita inginkan bisa teewujud. Aku memang bodoh, hanya bisa menulis surat ini. Aku memang orang tolol yang cuma bisa berandai andai,

Menjadi elang apanya? Menjadi burung gereja saja aku payah. Aku tak bisa membangun sarangku sendiri, aku tak bisa mencari makanku sendiri. Bagai mana aku menjadi elang yang selalu melindungi. Aku cuma burung yang cacat. Burung dengan sayap yang tak berguna. Burung yang tak berani terbang jauh dari sangkar. Burung yang lupa bagaimana kodratnya menjadi burung. Itu aku, Kinan. Itu aku! Si burung bodoh yang tak tahu menggunakan sayap.

Kinanti,
maaf aku tak bisa menjadi seorang yang berada selalu didekatmu. Tapi aku yakin kau pun tak menginginkannya. Karena, aku ini siapa, cuma seorang yang terlalu pecrcaya kalau kelinci dalam buku Alice itu benar ada. Kalau waktu itu bisa diputar hanya dengan membalikan jarum jam. Siapa lagi orang yang bodoh seperti ini selain aku. Tak ada, Kinan. Tak ada. Aku tekankan sekali lagi. Tak ada orang yang paling bodoh selain aku.

Kinan,
maaf, Kinan, maaf. Aku minta maaf.
Kinan,boleh aku berterima kasih untuk apa saja yang kau perbuat untukku. Untuk ucapan yang dengan atau tanpa sengaja diarahkan untukku. Kinan, aku berterima kasih karena memperkenalkan Frau kepadaku. Aku berterima kasih karena kau mau berdiskusi tentang televisi denganku. Aku berterima kasih karena telah menemaniku dalam perjalanan menuju stasiun, meski hanya dengan pesan pendek. Aku berterima kasih karena pernah menemaniku makan pecel lele, kita berdua kesurupan waktu itu. Kinan, semoga kau masih menyimpan hadiah pemberianku. Aku berterima kasih karena telah sudi berbagi kata sandi denganku. Dan aku berterima kasih karena telah menjadi bagian yang menyenangkan dari pencarianku. Aku senang menunggumu walau gagal. Ini surat terkahirku kepadamu, Kinan.
Kinanti,
maaf aku mencintaimu sedalam ini.

20 Februari 2019
*salam untuk suamimu dan kecup manis untuk Kinanti kecil, anakmu.

READ MORE - Kinanti, Surat Penutup

Kisahnya Pada Jam-jam Pagi

Pagi itu cerah, sama seperti pagi lainnya, datar. Cicit burung, suara berisik anak berangkat sekolah, motor-motor para ayah yang siap berangkat kerja, dan suara bising lainnya yang selalu mengganggu paginya. Tidak pernah ada pagi yang beda, semuanya sama, datar.

Begitu pun dihari libur atau tanggal merah, pagi yang sama selalu datang. Bedanya tidak ada suara berisik anak berangkat sekolah, tapi suara anak lelaki yang bermain kelereng dan anak perempuan bermain karet. Sungguh berisik.

Dia memang tidak seperti orang lain yang berada di sana, pekerjaan menuntutnya pergi sore pulang larut pagi, subuh. Jadi seharusnya pagi adalah waktu yang sakral untuk beristirahat setelah lelah mencari nafkah.

Yang menjengkelkan baginya adalah posisi rumahnya yang berada di ujung jalan keluar, dimana semua orang yang keluar masuk pasti akan melewati depan rumahnya. Awal dia memilih rumah di ujung jalan adalah agar ia bisa cepat keluar masuk komplek atau lebih tepatnya ia terlalu banyak berkomunikasi dengan orang-orang di sekitaran. Kini posisi rumahnya menjadi salah satu kesalahan yang dibuatnya sendiri.

Awal, kesendiriannya bukan masalah besar, malah dia sangat nyaman untuk bisa menyendiri, bisa bahagia tanpa terluka, bisa tenang dengan senang. Tapi seiring dengan itu, waktu berubah, ada sesuatu yang terasa terganjal dalam pikirannya, dalam hatinya.

Kebisingan yang diterima tiap harinya, mengikis sedikit demi sedikit batu dalam hatinya. Perasaannya mulai melunak. Apalagi ketika sekitar rumahnya kedatangan penduduk baru. Rumah yang dulu sempat ditempati Kepala Desa, kini ditempati seorang perempuan. Umurnya sekitar 3-5 tahun dibawahnya. Ia pasti terlihat dijam pagi saat burung senang bernyanyi, saat ayah-ayah memanaskan motor untuk kerja, dan anak-anak pergi sekolah. Perempuan itu pasti dilihatnya saat itu, saat seorang anak lelaki berseragam merah putih berangkat sekolah. Perempuan itu mengantarkan anaknya.

Perempuan itu sudah tidak bersuami, suaminya telah meninggal. Itu pun yang menjadi alasan mengapa ia harus berpindah tempat tinggal. Perempuan itu yang sekarang menanggung semua biaya hidupnya sendiri dan anak semata wayangnya. Rumah suaminya dibilangan komplek elit harus dijualnya, karena perusahaan tempat almarhum suaminya dulu bekerja tidak memberi biaya apa pun. Hasil penjualan rumah dipakai perempuan itu untuk membeli rumah yang lebih sederhana dan sisanya untuk modal usaha. Perempuan yang tegar dengan mata yang indah.

Mata yang indah yang membuatnya menyukai perempuan itu. Ia ingat saat dulu mereka bertemu. Saat itu ia baru pulang dari pekerjaannya, pagi hari. Ia sengaja pulang agak lambat untuk menghindari berbagai bising pagi. Saat hampir sampai rumah, ia berpapasan dengan perempuan yang mengenakan jaket longgar warna merah dan rok dibawah lutut sedang menggandeng anak dengan seragam merah putih. Perempuan itu tersenyum manis kepadanya. Mulai saat itu ada sesuatu dalam hatinya yang meminta keramaian, sepi hinggap terlalu lama.

Hari-hari berikutnya ia tak mau melawatkan kesempatan yang hanya datang saat pagi, karena siang saat perempuan itu kembali dengan anaknya, ia telah tertidur pulas. Kini setiap harinya ia tak ingin pulang terlambat ke rumah dan setiap hari ia menyempatkan untuk berada di halaman, kadang ia sedang menyapu, atau membaca koran dan minum secangkir kopi, kadang juga sedang menyirami tanaman di halamannya yang padahal dulu ia tidak pernah peduli tanamannya. Meski kegiatan itu hanya mengurangi jam tidurnya, tapi itu dilakukan semata hanya untuk mendapat senyumnya bahkan kalau sedang beruntung ia akan mendapatkan ucapan selamat pagi.

Hari demi hari senyuman itu terus didapat tanpa sedikit mengurangi arti senyumnya. Hingga suatu hari ada yang berubah, senyuman pagi kini hilang. Seminggu sudah senyumnya kini tiada. Ia mencari senyumannya. Sepulang kerja tak ada lagi nongkrong dengan kopi di depan halaman, atau pura-pura menyapu halaman, apalagi harus capek menyirami tanaman yang tumbuh sembarangan. Sepulang kerja ia langsung berjalan mengitar rumah-rumah di sekitar rumahnya, dan selalu sengaja untuk melewati rumah perempuan yang dicari senyumnya.

Hari ke hari ia terus mencari. Meski lelah ia harus, karena itu yang membuat sepinya hilang. Hari ketujuh pencariannya, ada sebuah kertas putih yang sudah diprint dengan tinta hitam bertuliskan "DIJUAL". Perempuan itu pergi, membawa senyumannya. Ia kembali sepi, lagi.

Pagi yang cerah, sama seperti pagi lainnya, datar. Cicit burung, suara berisik anak berangkat sekolah, motor-motor para ayah yang siap berangkat kerja, dan suara bising lainnya yang selalu mengganggu paginya. Paginya kini sama seperti dulu, semuanya sama, datar.

Bandung, 10 April 2015
READ MORE - Kisahnya Pada Jam-jam Pagi

Sebuah Permintaan

1. Satu permintaan yang tak pernah Elkan berikan kepadanya. Sungguh tak pernah sanggup ia memberikannya. Permintaan yang sulit baginya.
2. Elkan sudah sangat sering berusaha mencari, tetap tak pernah didapatkannya. Permintaan itu selalu Elkan dapatkan, tiap hari, tiap jam.
3. Cuma ada satu kata yang selalu Elkan berikan setelah permintaan itu terucap, "sabar". Tidak ada kata pengantar lainnya, atau sebuah janji.
4. Seberapa lelahnya Elkan mencari yang pasti tidak pernah memberikan janji. Itu berat menurutnya, memungkiri sama dengan jatuh harga diri.
5. Hari itu ia merengek meminta Elkan medapatkannya, lagi. Berbeda, ia menjadi ganas, barang apa pun di dekatnya dilempar kearah tembok.
6. Alhasil kamarnya menjadi berantakan, kapal pecah pun kalah. Elkan bingung dengan apa yang terjadi, dan bingung harus berbuat apa.
7. Kejadian seperti ini baru kali pertama. Ia menangis sejadinya dan meminta Elkan segera mendapatkannya. Ancaman pun mulai terlontar.
8. Dari mogok makan hingga bunuh diri ia lontarkan. Elkan menenangkannya dengan satu kata "sabar". Tapi tangisannya semakin menjadi.
9. Elkan tak tahu harus berbuat apa, kehabisan ide. Kehabisan kata-kata untuk menenangkannya. Kehabisan cara membuatnya reda.
10. Elkan mendekatinya yang sedang menangis sejadinya, kemudian memeluknya, mendekap, menciumi rambutnya. Elkan menangis sendu, sedih.
11. Elkan tak tak pernah bisa mengabulkan permintaan anaknya tersebut. Dulu anaknya adalah gadis yang cantik dan periang, selalu tersenyum.
12. Hingga suatu kejadian menimpa dirinya, ia kecelakaan saat bermain bersama ibunya. Ibunya yang juga istri Elkan meninggal saat kecelakaan.
13. Dan ia sendiri mengalami kebutaan total yang membuatnya trauma. Ia tidak pernah tahu ibunya meninggal, Elkan tidak tega memberitahunya.
14. Suatu saat ia harus mengetahuinya, Elkan mengerti itu. Saat ini Elkan cuma harus menenangkannya, meredakan tangisannya.
15. Ia meronta dipelukan Elkan, menangis dan teriak-teriak keras. Elkan tetap memelukanya, tersedu dan masih mencoba menenangkannya.
16. Hampir sejam ia dipelukan Elkan, kini mulai tenang. Cuma tangis sendu yang terdengar, matanya sembab berkaca air mata.
17. Dalam tangisan kecil Elkan berkata, "maaf nak, ayah belum bisa memberikan pelangi yang kau minta." Sepi, hening cukup lama.
18. Sepi pecah cuma dengan kalimat yang ia ucapkan, "ayah aku mau ketemu ibu."
19. "Aku juga merindukannya, nak." Pelukan Elkan semakin erat.
20. Selesai.


Bandung 1 April 2015
READ MORE - Sebuah Permintaan

Kiamat Kecil

Ada kebiasaan yang selalu datang pada Yumi tiap bulan, itu berulang, dan sakit. Andra tidak pernah mau mengerti kalau waktunya tiba itu bisa sangat menyakitkan. Kiamat kecil ia sering bilang.

Waktu itu hujan, jalan kota macet. Ada pohon tumbang di perempatan. Andra masih belum mau berdiri dari kursi di gedung lantai 7, padahal sudah tidak ada yang harus dikerjakan. Hujan memang bikin malas keluar. Jarum pendek jam sudah menunjukan ke angka 7. Selancaran di dunia maya mungkin bisa mententramkan hatinya. Dari pagi sudah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada sesuatu yang tidak enak dirasakannya. Andra tahu ada kejadian yang tidak terduga nantinya. Ia tak mau mengambil resiko dengan pulang cepat-cepat, diluar petirnya besar.

Dua jam berlalu, hujan pun sudah mulai reda. Andra siap bergegas pulang. Cuaca kota tanpa hujan sudah lumayan dingin tapi apa jadi nya kalau ditambah dengan guyuran air, itu melipat gandakan dingin. Saat seperti ini pikiran Andra cuma tertuju pada Yumi. Tak mempedulikan ketidakenakkan hatinya gas ditancap, mobil bergerak dengan cepat.

Setengah jam berlalu, Andra sudah sampai. Jalan sudah aman dari macet.

"Hai." Andra menyapa. "Kamu tidak lagi kiamat kecilkan? Ini habis hujan, sayang." Genit.

"Aku terlambat." Mata Yumi berkaca.

"Magsudmu?" Andra kaget. Mungkin ini 'ketidakenakhatian'nya dari pagi, hati memang susah dibohongi.

"Iya! Aku terlambat! Aku terlambat!" Senyum simpul tergambar di wajahnya.

"Kamu hamil?" Wajah Andra bersinar cerah.

"Iya, sebentar lagi kita akan menjadi orangtua." Yumi menangis haru.

"Aku mencintaimu, Mah."

"Aku mau dipanggil 'Ibu'."

Selesai
Bandung, 20 Maret 2015
*Cerita gagal dapst kuis
READ MORE - Kiamat Kecil

Halte

1. Lama lelaki itu duduk di halte bus, sudah sekitar 2 jam ia di sana. Entah apa yg ditunggu, bukan bus. #isengCerita

2. Berapa puluh bus yang berhenti ia tetap tak bergeming, diam. Tak jelas pula apa yg dilihat, pandangannya kosong kedepan. #isengCerita

3. Sesekali ia melihat jam tangannya dan kembali melihat kedepan, hambar. Matahari sudah condong ke barat, angin biasa saja. #isengCerita

4. Cuaca cukup ramah untuk lelaki paruhbaya ini, faktor usia memang rentan penyakit terkena angin. #isengCerita

5. Dengan planel biru lengan panjang dan celana bahan hitam pekat iya terlihat tampak muram, wajahnya datar. #isengCerita

6. Entah yang keberapakalinya bus kembali berhenti, lelaki itu tetap diam. "Selamat sore, Josh." Sapa supir lagi, tak digubris. #isengCerita

7. "Hey, apa kabar?" Tiba-tiba perempuan menghampiri dan duduk di sebelahnya. "Saya Lisha." Menawarinya berjabat tangan. #isengCerita

8. "Orlando?" Lelaki itu menggeleng. "Aku harus kesana, sepupuku kecelakaan td siang. Semoga tak terlambat. Ia sepupu terbaik." #isengCerita

9. "Kami dibesarkan bersamaan oleh nenekku. Setelah besar kami dipisahkan untuk urusan akdemik." Tatapan lelaki itu mulai fokus #isengCerita

10. Cerita perempuan tadi mengaburkan lamunannya yang sudah lebih 2 jam. Entah apa yg menarik perhatiannya, Lisha menyenangkan. #isengCerita

11. Bus datang lagi, ini yang ditunggu Lisha. "Hey Josh." Sapa supir lagi. Berbeda, lelaki itu mengacungkan tangan kanannya. #isengCerita

12. "Ini busku. Aku harus pergi." Lisha berdiri, "Kau sudah lama? Untuk alasan apa pun kau juga harus pergi, tak baik untuk kesehatanmu."

13. "Namamu?" Tanya perempuan itu. "Josh. Edward Josh." Jawab lelaki itu. "Josh, nama sepupuku Grace. Ia kelainan, autis." Lalu menaiki bus.

14. "Semoga harimu menyenangkan Josh." Kata supir dari dalam bus. "Iya, terimakasih." Jawab lelaki itu. Perlahan bus itu menjauh, juga Lisha

15. Lelaki itu kembali melihat jamnya. Sudah 2 setengah jam iya duduk. Ini sudah lebih dari waktu normalnya berdiam. Segera ia harus kembali

16. Sejenak lelaki itu diam mengingat kata perempuan tadi, 'untuk alasan apa pun, kau juga harus pergi', "apa magsudnya?" Tanyanya dlm hati.

17. Sinar matahari hanya tinggal menyisakan serpihan cahaya dibalik dedaunan. Langit mulai merah, lembayung. Tak lama lelaki itu berdiri.

18. Lelaki itu pergi dgn kata-kata yg tak sempat diucap. "Lisha, kamu mirip istriku saat masih muda, ia meninggal tertabrak di halte tadi."

Rancaekek, januari 2015

READ MORE - Halte

Pot

1. Meja segitiga disudut ruangan yang cukup luas untuk menampung puluhan orang itu seperti tidak pernah terganggu. Diam kokoh, tak rapuh.

2. Warna coklat mengkilat dengan garis tipis sembarangan warna hitam menunjukan citra sederhana namun terlihat tampak mewah.

3. Meja dengan tinggi tidak lebih dari sepinggang orang dewasa itu terlihat bersih seperti baru keluar dari pabrik mebel terkenal.

4. Tepat di seberang meja di sudut dengan garis lurus, Tira duduk di depan meja bundar kecil berteman secangkir kopi. Kopi ke tiganya.

5. Bukan meja dengan ukiran seniman hebat yang ia perhatikan. Terlebih dari itu ada benda unik yang berada tepat di atasnya.

6. Tira senang mengamatinya. Sudah minggu ke lima ia datang ke tempat itu, rutin tiap jumat sore.

7. Sebuah pot dari kaleng bekas biskuit bergambar seorang ibu yang sedang menuangkan minuman kedalam gelas anaknya. Itu menjadi fokusnya.

8. Fokus dari minggu pertama ia datang ke tempat itu tidak berubah. Tira jatuh cinta.

9. Pukul 7 malam, waktu yang sama untuk bergegas pulang dengan tergesa. Tira tak mau perlahan meninggalkannya, hanya memperlambat luka.

10. Seminggu dari itu ia akan kembali ke tempat yang sama dan memandang lurus ke benda sama.

11. Tira jatuh cinta, tanpa alasan.

Rancaekek, januari 2015

READ MORE - Pot

Aku Tuli

Hujan itu. Basah itu. Air itu. Angin yang mengendus. Warna-warna spidol anak TK pada pelangi. Bau bunga tersiram hujan. Juga gemuruh keras petir. Aku dapat merasakanya, melihatnya, menciumnya, mendengarnya, tapi sulit aku menceritakannya. Aku tak bersuara. Yah, aku bisu! Terima kasih tuhan.
*
Sudah dari saat aku terlahir pita suaraku putus tak tersambung. Tidak terdengar suara sedikit pun keluar dari mulut ini. Meski cuma ‘eeeekkhhh’ atau ‘mamah aku lapar’ sungguh imposible. Lapar? Oh yah, aku ingat. Saat aku bayi ketika lapar aku selalu menangis tanpa suara, apalagi teriak cuma menagis. Dan mamah ikut pula menangis. Kenapa mamah mesti menangis? apa karena aku tidak bisa teriak saat aku lapar atau cuma karena aku tidak bisa bicara ‘mamah aku lapar’. Seharusnya kan mamah senang aku tak berisik, tak pernah teriak. Banyak mamah-mamah tetanggaku yang punya bayi selalu marah ketika anaknya menangis plus  teriak lapar. Kenapa mamah menangis ketika aku hanya berlinangan air mata dan membuka lebar-lebar mulutku saat lapar, tidak berisik, tidak bersuara. Mungkin kalau mamah adalah tetanggaku, mamah akan bersuara, “nah, gitu enggak berisik,” dan aku yang akan menangis terus.
Entah dari kapan aku munyikai hujan. Aku selalu berada di depan jendela rumah jikalau hujan turun. Aku ingin lihat air yang jatuh ke rumput, ke tanah, ke dedaunan. Aku juga suka dengan bau bunga yang tersiram hujan. Juga pelangi yang melukis angkasa setelah hujan berhenti. Tapi aku tak suka dengan petir dan gemuruhnya, aku takut dengan itu. Kalau aku sedang melihat petir dan mendengar gemuruh kadang-kadang rasanya ingin juga aku buta dan tuli. Cuma untuk tidak melihat petir dan mendengar gemuruh. Aku selalu lari ketakutan kalau saat aku di depan jendela tiba-tiba ada petir yang menyambar, aku langsung masuk kamar dan mengurungi dengan selimut. Suatu saat ayah datang ke kamarku setelah melihatku lari ketakutan saat ada petir. Saat itu aku mulai tidak takut lagi pada petir dan gemuruh. Ayah memberi tahuku, ”nak... petir, hujan, angin, pelangi adalah satu kesatuan utuh, mereka membuat harmoni yang indah. Keseimbangan yang dibentuk sungguh sempurna. Jika saat petir menyambar-nyambar tapi ketika itu tak ada hujan sungguh tak seimbang, tak ada harmoni yang terbentuk, atau jika hujan mengguyur dengan deras tak terlihat pelangi, sangat sia-sialah air yang tumpah ruah itu. Maka mereka adalah kesatuan, seperti kita, ayah, mamah, dan kamu. Kita kesatuan yang tidak terpisahkan. Jangan pernah takut nak, ayah dan mamah selalu ada di sisimu.”
Semua orang memang punya keberuntungan yang berbeda. aku pun punya keberuntungan disela-sela ketiadaan suaraku. Aku punya mamah dan ayah yang baik, mereka yang selalu membisikiku kalau mereka adalah mamah dan ayahku. Aneh, kenapa bukan mamah dan papah atau ayah dan ibu, kenapa harus mamah dan ayah. Itu mungkin kemauan mereka. Mereka tak pernah bercerita dan aku tak pernah bertanya. Keberuntunganku bukan hanya punya orang tua yang baik. Tetanggaku baik, lingkungan rumah maupun sekolahku baik, juga aku diberi teman-teman yang baik, teman-teman yang selalu bermain denganku. Aku senang kalau kita lagi main petak umpet, aku tak pernah jaga. Karena dulu pernah aku yang jaga dan aku bingung untuk memanggil nama yang aku temui. Beruntung teman-temanku mengerti dan tak pernah menyinggung soal aku yang tidak bisa bicara. Ini bukan mauku atau orang tuaku.
Aku pun dapat lingkungan sekolah yang baik. Aku bersekolah di sekolah formal seperti anak-anak lain dan beberapa tetanggaku adalah teman sekelasku. Aku senang bisa berteman dengan mereka tak ada diskriminasi. Semuanya baik mau bantu aku dalam hal pelajaran yang kurang aku mengerti. Kelasku memang kelas dengan anak berotak Einstens, semua selalu berlomba untuk jadi rangking pertama. Aku selalu masuk sepuluh besar. Maka dari itu banyak guru yang menyukaiku. Aku suka bermain saat istirahat, awal masuk aku sangat tidak percaya diri, aku sering minder dengan teman-teman sekolahku. Tapi teman-temanku yang selalu mengajakku  untuk bermain dan membuat aku tak pernah merasa seperti orang yang punya kekurangan. Awalnya aku dan teman-temanku susah untuk berkomunikasi, bahkan dengan orang tuaku sendiri. Tapi untung saja ada Tasya yang memberiku solusi dari kesulitan berkomunikasi. Saat itu aku sedang belajar bersama dengannya, dan ada beberapa soal yang kurang aku mengerti. Ketika itu aku bingung ingin menanyakanya dan hanya menunjuk-nunjuk soal tersebut. Tasya masih saja belum mengerti dengan apa yang aku magsudkan. Hingga pada akihirnya sang wonder women bicara sesuatu,”kamu tanya apa? tulis saja pertanyaan kamu, nanti aku jawab.” Dan setelah itu aku tak lepas dari buku dan pulpen, kadang-kadanga pensil. Aku kini berkomunikasi melalui tulisanku, dengan orang tuaku, guruku, tetanggaku, temanku, juga Tasya sang wonder womenku.
Suatu hari aku melihat kembali hujan, angin, pelangi, dan kini aku tak takut pula melihat petir dan gemuruh. Kembali jendela depan rumah ku ambil untuk menikmati mereka. Berdiam, fokus memperhatikan hujan. Banyak air yang tumpah dari langit saat itu. Kilatan-kilatan petir mirip flash saat sesi pemotretan foto model saling berkilatan. Angin yang mengendus bagai kerbau yang marah, sangat terlihat uap-uap berbentuk asap keluar. Gemuruh yang terdengar seperti orang dewasa yang telah makan kekenyangan, terdengar keras seperti sendawa raksasa dengan spiker aktif berkapasitas 5.000.000 volt. Setelah semua beres. Genang-genangan air berwarna coklat yang mirip dengan susu coklat yang ibu buat saat pagi, terlihat sangat lezat untuk meminumnya. Basah-basah pohon membuatku ingin memberikan hairdryer. Bunga yang mengeluarkan harum menyegarkan. Juga di langit, pelangi yang membelah angkasa dengan warna-warna crayon berpuluhan juta, seperti lukisan tuhan yang sengaja diciptakan untuk menambah indah saat-saat hujan berhenti. Aku ingin mengingat memori ini, tak ingin ku lupakan saat indah ini. Juga aku ingin memberi tahu ayah dan mamah, tetanggaku, teman-teman sekolahku, guruku, semuanya, semuanya ingin ku ceritakan tentang keindahan ini. Yah, aku ceritakan
*
Hujan itu. Basah itu. Air itu. Angin yang mengendus. Warna-warna spidol anak TK pada pelangi. Bau bunga tersiram hujan. Juga gemuruh keras petir. Aku dapat merasakanya, melihatnya, menciumnya, mendengarnya, dan aku dapat menceritakannya. Aku tak bersuara. Yah, aku menulis! Terima kasih tuhan, terima kasih Tasya. Aku kini terus bercerita.



26 Maret 2012
*berceritalah, terus ceritakan, lisan atau tulisan. Berceritalah.
READ MORE - Aku Tuli

Mamah

“Mamah” suaranya sangat indah, ia tak lupa.
*
Malam itu memang jadi semakin muram. Semakin keruh. Hujan yang mengguyur dari pagi tak berhenti semenit pun. Guruh gemuruh tanpa petir, juga angin angin kecil, menebas seluruh waktu yang tersisa beberapa jam lagi. Ia masih rela kehujanan tanpa payung, mengetuk pintu demi pintu rumah keluarganya. Ia tak pernah lama berkunjung, lima sampai sepuluh menit lalu kembali pergi. Kerabat dekatnya pun ia kunjungi, dari pagi.
Dan juga rumah Hari, mantan suaminya. Rumah yang dulu juga ia tempati bersamanya. Rumah terakhir yang ia kunjungi, kesempatan terakhir ada pada rumah itu. Tidak ada harapan pada rumah rumah sebelumnya. Hanya pada rumah itu ia mengharapkan segalanya. Semua impian tentang masadepannya. Semua kini tinggal pada rumah terakhir yang ia kenal. Rumah mantan suaminya, Hari.
Hujan masih mengguyur meski sudah tidak lagi seperti tadi. Sudah tak ada guruh, angin, atau pun petir. Ia masih berjalan pada genangan genangan air hujan di jalan berlubang, keruh warnanya, sekeruh hatinya saat ini. Siraman air dari langit menyentuh tubuh tubuhnya yang sudah hampir membiru, menggigil kedinginan tanpa jas hujan, payung, hanya ada plastik yang menutupi kepalanya yang ia temui di pinggir jalan tadi. Ia bisa sampai ke rumah itu, harapan tergantung pada rumah itu. Berjalan menggigil kedinginan, hujan masih terus berjatuhan. Seperti air mata yang berjatuhan dari matanya yang bulat hitam. Dengan tangisnya ia masih tetap berjalan, tanpa mau sedikit pun berhenti, beristirahat.
Ttteeeettttt tteettttt
Suara bel rumah ditekan, dengan jari jari keriput kedinginan, pucat putih. Ttteeettttt, kembali dibunyikan, belum ada yang keluar. Ttteeeettttt.
“Iya tunggu sebentar” terdengar suara dari dalam rumah, suara perempuan.
Ia masih menunggu tetap di depan pintu masuk di depan teras. Teras dengan bunga bunga dalam pot pot kecil yang dulu ia sirami, ia rawat, ia jaga, tentu ia tanam. Mawar putih yang dulu masih setinggi lutut sekarang sudah tinggi hampir setengah orang dewasa, juga berbunga, cantik, indah. Namun tak seindah ia sekarang. Dua kursi dari rotan dan satu meja berkaki besi hitam mengingatkan ia pada sore berlembayung yang ditemani teh hangat dan beberapa kue lapis yang ia buat sendiri, Hari sangat suka, dulu sebelum mereka berpisah. teras yang indah saat dulu saat ia selalu mendengar kata kata yang terucap dari anak manis.
“Mamah” suaranya sangat indah, ia tak lupa.
Dalam lamunan, juga ia tak lupa pada kenangan yang tak ingin ia kenang saat ia pergi dari rumah itu. Saat terakhir kali ia melihat rumah itu, saat siang menuju sore, saat mendung yang hampir muntah, dengan tas berisi beberapa pakaian, juga anak manis yang berpegangan tangan yang terus menangis tanpa henti dan berucap “mamah” suaranya indah, ia tak lupa.
“Siapa?” suara dari dalam, masih suara perempuan.
Terdengar suara makin dekat, suara langkah kaki bersandal yang beradu dengan keramik lantai. Ia masih menggigil dingin di depan pintu dan di depan semua kenangan di rumah, saat dulu. Terdengar gagang pintu tersentuh, terbuka perlahan, dan...
“Rima?” Ia berkata di depan orang yang membuka rumah tersebut, hampir tak percaya, sahabatnya dulu.
“Kamu? Kamu kenapa, ayo masuk, wajahmu pucat.” Pembuka pintu yang bernama Rima, kaget melihat teman lamanya berkujung di rumah suaminya, dan mantan suami temannya.
Rima adalah sahabat dekat saat dulu ia masih menjejali bangku kuliah, cuma sayang ia tak tamat. Ia harus berhenti, ia mengandung anak Hari tanpa ada pernikahan terlebih dahulu. Ia tak mau mengingat kejadian itu.
Rima mengajaknya masuk kedalam rumah. Ia didudukkan di sofa ruanga tamu, ruang yang dulu selalu menjamu tamunya atau mantan suaminya, Hari. Rima bergegas mengambil handuk kering dari ruang belakang.
“Siapa mah?” Suara laki laki dari dalam ruang keluarga.
Suara yang sangat ia kenal. Suara yang sudah hampir empat tahun bersamanya. Suara yang agak berat. Suara yang membuat semua teringat kembali, suara saat ia masih merasakan perkuliahan, saat dulu dipaksa menjalankan pernikahan, saat dulu menjalani hidup bersama, juga saat ia harus pergi dari rumah yang sedang ia tempati sekarang.
Rima  mendekati suara suaminya dan mantan suami temannya, belum mengambil handuk keringnya “Papah temani dulu ia, aku ambilkan handuk dulu, ia kehujanan.”
“Siapa ia?”
Aku juga akan buatkan air hangat untuknya, ia menggigil.” Berjalan cepat dan Rima hilang dari ruang tempat suami dan mantan suami temannya berada, ke ruang belakang.
Hari bangun dari kursi yang ia duduki. Diberinya pembatas pada buku yang sedang ia baca tadi, lalu disimpannya buku tadi pada meja dengan berlampu tidur, terang hanya pada sekitar meja. Langkah langkahnya membuat penasaran hatinya untuk tahu siapa yang datang malam hari berhujan lebat seperti ini. Saat Hari sampai satu langkah pada ruang tamu, hari terdiam, terpatung. Ruangan itu terasa hening, dingin hujan pun tak lebih dingin dari suasana saat itu. Ruangan itu seakan tak beratap, air air hujan yang turun seakan menjatuhi seluruh tubuh Hari, sangat deras dibanding hujan di luar. Hari terus menatap tajam seluruh tubuh tamunya, duduk menggigil di sofa. Ujung rambut yang hitam legam, basah. Menatap raut wajahnya yang pucat dingin. Bibirnya yang hampir membiru. Dan….
“Mas,” ia menyapa Hari.
Hari tersontak kaget, rasa bersalah yang dulu ia lakukan pada mantan istrinya yang sekarang bertamu kini menghinggapi pikiran pikirannya yang kosong. Hari tak menjawab sapaan tamunya.
“Mas, maafkan aku telah mengganggu keluargamu sekarang. Aku tak bisa lama hadir di sini, aku harus segera kembali.” Masih tak berjawab.
“Lebih baik aku pergi.”
Saat ia sudah berdiri dan akan melangkah kearah pintu untuk keluar, Hari bicara. “Maafkan aku, dulu aku menyia nyiakanmu, sungguh aku ingin mengucapkannya dari saat kau pergi. Maafkan aku.”
“Aku tak bisa lama di sini, Mas.”
“Kenapa? Ada perlu apa kau datang kemari?”
Hari mendekati tamunya, mempersilakan duduk kembali pada sofa yang ia duduki tadi.
“Sungguh bukan magsudku untuk menyusahkanmu, Mas.” Ia berbicara ragu.
“Apa yang kau butuhkan, apa aku bisa bantu?” Hari mencoba meyakinkannya.
Dari dalam terdengar langkah kaki cepat masuk ke dalam ruang tamu. Langkah itu seakan memburu waktu. Rima datang dengan teh manis hangat dan handuk di pundak kirinya. Rima segera duduk di sebelah tamunya.
“Minum dulu, kamu pucat.” Rima memberikan teh manis hangat yang tadi dibawanya.
“Terima kasih Rim.” Ia mengambil teh manis hangat tadi lalu meminumnya, dan Rima menghanduki kepalanya yang basah air hujan. Mereka sungguh masih terlihat bersahabat seperti dulu, tak canggung.
“Kamu kenapa?” Rima mencoba bertanya, mencairkan suasana.
“Maafkan aku Rim. Sebenarnya aku tidak ingin merusak hubungan keluarga kalian sekarang, tapi aku sudah tak tahu harus meminta pertolongan ini pada siapa. Hanya bantuan suamimu yang aku harapkan sekarang.”
Ruang tamu itu hening beberapa detik, tak ada suara manusia terdengar, hanya hujan gerimis di luar dan angin angin kecil yang terdengar menggesekan ranting ranting pohon. Sepi, seperti tak bernyawa. Lalu…
“Pah,” Rima melirik suaminya, Hari.
“Akan ku bantu apa pun itu, anggap saja bantuan ini ucapan maafku.”
“Si manis Mas, anak kita di rumah sakit.” Ia menangis, kata katanya terputus putus oleh tangisannya, “ia harus di operasi, ada benjolan di belakang kepalanya. Dokter bilang itu tumor.” Ia semakin tak bisa menahan air matanya.
Rima memeluknya dari samping, mencoba menenangkan hati tamunya. Dan Hari terhentak kaget. Ia tak bisa berbicara, serasa bisu ia mendengar berita tersebut. Tangan tangannya kaku ia gerakan, kaki kakinya berat untuk di langkahkan, badannya tak bisa terangkat berdiri. Ia kaget mendengar berita itu. Kekhawatiran Hari terhadap anaknya mungkin yang mengalahkan kebisu, kekakuan, dan semua rasa berat yang hari rasakan.
“Di mana ia sekarang?” Hari terhentak.
Ia masih menangis dalam pelukan sahabat lamanya dulu, Rima. Air mata masih terus keluar, tak kering kering seperti hujan sepanjang hari tadi.
“Aku ganti baju dulu. Mah, ganti pakaiannya, ia kedinginan. Kita berangkat saja sekarang.” Kekhawatiran dan rasa rindu melupakan semuanya.
*
Mungkin rasa benci yang telah diterimanya beberapa tahun kebelakang masih terus terbayang, masih menyengat dalam hatinya, bahkan yang terdalam. Membisiki telinga hingga sampai mengiris pikirannya, membutakan seluruh hasrat kehidupannya. Tapi hari ini saat semua berubah, saat semua ucapan maaf yang terlantunkan, saat anak mereka tengah tertidur di sebuah kamar rumahsakit. Ia dapat melupakan rasa bencinya yang menahun. Rasa perih yang ia terima saat pergi dari rumah yang tadi dikunjungi. Melupakan bahwa sahabatnya Rima menjadi istri dari mantan suaminya. Yang ia pahami sekarang adalah rasa waswas menunggu operasi anaknya akan segera dilaksanankan berkat bantuan mantan suaminya, suami sahabatnya.
Derai air mata yang mengalir dari mata mantan suaminya Hari, terus berjatuhan saat melihat anaknya terbaring lemas disebuah kasur dengan bantuan pernafasan, dan infus menempel pada tangan kirinya. Anak manis itu terlihat lemah. Juga komatkamit mulut ibu kandung anak manis yang sedang terpejam itu, ia terus berdoa. Rima memeluk sehabatnya dari samping, matanya berkaca kaca, tak tega melihat anak dari sahabatnya sekaligus dari mantan istri suaminya pucat tak bergerak.
“Sebertar lagi kami akan berusaha,” dokter yang akan menangani operasi anak manis itu berkata pada mereka bertiga.
“Apa pasti sembuh dok?” Hari bertanya.
“iya dok.” Dengan isak tangis, ia menambahkan.
“Sabar, anakmu pasti sembuh.” Rima menenangkan.
“Kami akan berusaha, mohon doa dari bapak dan ibu semua.” Dokter menjawab, “saya pergi dulu.”
Beberapa menit setelah dokter pergi, beberapa suster membawa anak manis itu kesebuah ruangan, dimana mereka tidak diperkenankan untuk masuk kedalamnya. Berjam jam telah berlalu saat setelah anak manis itu dibawa. Malam semakin malam, hujan sudah reda. Hanya angin sisa hujan tadi masih tembus menyentuh tubuh.
Dalam bisik hatinya ia tahu tidak akan pernah membahagian anaknya meski telah sembuh dari sakitnya. Ia berfikir keras untuk itu, ia tidak ingin mengecewakan lagi anaknya dengan menjalani kehidupan yang sulit. Dengan hati yang telah bulat, saat anaknya masih berada dalam ruangan yang tidak bisa dimasukinya. Disaat mantan suaminya duduk termenung. Juga Rima sahabatnya berdiri mematung. ia harus pergi meninggalkan mereka. biar kelak apabila anak manis itu sembuh ia akan bersama ayahnya dan Rima menjadi ibu tirinya. Ia harus pergi. Tapi... semua bekata lain.
*
Siang sudah berjalan jauh, kini hampir sore. Tepat di sebuah tempat peristirahatan terakhir. Semua berpakaian hitam dengan wajah yang sendu, ada beberapa yang menangis. Ada beberapa saudaraku yang nampak hadir disitu, juga beberapa teman temanku dulu, semuanya nampak sedih. Juga mantan suamiku, Hari dan istri barunya, Rima, sahabatku. Hari terlihat sangat menyesal dengan wajah sedihnya dan sesekali berair mata. Rima malah terlihat menjadi orang yang paling sedih saat itu, air matanya tak henti keluar. Juga, siapa itu? Yang berada di kursi roda sebelah Hari. Dia nampak sangat aku kenal, “Anakku, manis! Kamu sembuh nak.” Iya itu anakku dia telah sembuh, yah telah sembuah. Terima kasihku pada dokter yang menyapa kami di rumah sakit saat itu, kau berhasil, dok. Doa ku pun berhasil, terima kasih. Doa mantan suamiku, juga istrinya yang adalah sahabatku. Aku senang dapat melihatnya kembali, meski terlihat belum sempurna sehatnya. Mungkin kalau bisa aku ingin mengucapkan maafku padamu, manis. Mungkin ini memang menjadi balasan atas kesalahanku yang akan meninggalkanmu, meski tadinya hanya untuk sementara. Tapi nyatanya saat aku baru keluar rumah sakit tempatmu di operasi, cahaya yang menyilaukan, dan suara klakson yang sangat keras yang masih aku ingat. Aku tertabrak truk, yah aku tertabrak. Sungguh aku minta maaf kepadamu nak. Juga ingin aku minta maaf kepada Hari dan Rima, yang telah menyusahkannya dimulai dari kemarin, mungkin untuk kedepanya juga karena telah rela membesarkan anakku. Maaf dan terimakasih.
Satu persatu keluarga dan kerabat pergi. Kini hanya menyisakan Hari, Rima, dan si manis anakku. Hanya kalian bertiga kini yang tersisa dan mungkin sebentar lagi akan pergi. Untuk terakhir kalinya aku masih bisa melihatmu yang telah sembuh dari penyakitmu, nak. Dan...

“Mamah.” Suaramu sangat indah, aku tak lupa.

13032012
READ MORE - Mamah

Aku Suka Boneka

Boneka itu sebuah mainan anak. Tapi sekarang orang dewasa pun banyak yang suka, jadi bukan lagi mainan anak lagi. Sebuah benda yang dengan berbagai macam ukuran, bentuk, warna, dan bahannya pun beragam. Aku termasuk salah satu penggemarnya. Tapi tak sepanatik perempuan. Namaku Tunggal, bukan anak pertama dan bukan anak satu-satunya. Itulah kesalahan fatal kedua orangtuaku, memberi nama Tunggal, sementara aku bukan anak satu-satunya. Aku penyuka boneka, pengagum mungkin tepatnya, dan aku laki-laki.

Aku tak pernah tahu dari mana aku sampai menyukai boneka. Padahal ayahku militer, ibuku hanya iburumahtangga biasa, kakakku perempuan, adik juga. Dari mana aku suka, mungkin dari tuhan. Apa karena adik dan kakakku yang perempuan. Tapi setahuku mereka tidak ada yang menyukai boneka. Ibu malah suka bola, penggemar Manchester Untited. Loh, masa Ayah, di mana ada militer perang bawa-bawa boneka. Senjata itu bukan  mainnan yang seenaknya bisa ditembak kapan saja, kemana saja, siapa saja. Senjatakan untuk melindungi, bukan membunuh. Jadi jelasnya ayah itu mainin senjata bukan boneka.

Tapi jang heran, aku tak punya satu pun boneka meski aku ingin sekali mempunyainya. Bukan karena faktor ekonomi aku tak punya. Ayahku militer, tentara dengan pangkat yang aku sendiri tak tahu namanya, yang jelas tinggi. Ibuku termasuk orang yang baik terhadap anaknnya, tak pernah terasa kurang bekalku tiap hari berangkat kuliah. Rokok, makan, ongkos, setiap hari cukup kadang suka lebih buat beli buku, tapi tak pernah sedikit pun berfikir untuk beli boneka. Aku pun tak malu ketika aku bercerita kepada pacarku bahwa aku suka boneka. Dia cuma ketawa tahu soal itu, selanjutnya biasa lagi, dengan senyum-senyum kalau lihat boneka pas lagi jalan bareng.

Boneka itu benda mati yang aneh menurutku, benda yang dapat bikin imajinasi kita keluar. Kayak dalang, dia kan mainin boneka. Dengan berbagai macam bentuk dia mainkan wayang kulitnya itu dan bisa menghasilkan cerita yang wah... luarbiasa aku tidak pernah mengerti. Aku kurang faham bahasa Jawa, meski aku keturunan Jawa tulen. Apalagi wayang golek Sunda, bahasa kitakan berbeda. Yang aku sedikit ngerti itu wayang Golek betawi, bahasanya betawi hampir sama kayak bahasa Indonesia. Ternyata boneka itu bukan hanya teddybear atau tokoh kartun yah. Wayang yang tradisional pun termasuk boneka. Aku suka wayang.

Tak banyak yang tahu tentang keanehanku ini. Ibu, ade, kakak, Ayah, hanya beberapa teman dekat dan pacarku saja yang mengetahuinya. Bahkan salah satu teman dekatku merasa sangat prihatin sekaligus takut, jikalau aku ini seorang berkejiwaan ganda. Pacarku itu hanya kamuflaseku saja, katanya sambil tertawa menatap mukaku yang paranoid jikalau aku memang benar seperti itu. Tapi menurutnya itu kewajaran saja. karena setiap menusia memiliki kecenderungan menyukai sesuatu hal yang tidak biasa, ada jugakan manusia yang gemar makan bata, atau orang yang suka ngobrol dengan tihanglistrik, bahkan itu lebih aneh katanya. Tapi menurutnya keanehanku bukan dari sekedar suka boneka saja. Aku pun aneh menurutnya, karena aku tidak jadi tentara dan malah masuk kuliah jurusan sastra. Sedangkan Ayahku adalah tentara dengan pangkat tinggi. Memang kebanyakan tentara itu turun menurun, dan bukan rahasia publik lagi bahwa setiap anggota mendapat 'jatah' untuk memasukan anak atau keluarganya. Untuk ini aku bisa menjawabnya, aku suka boneka tapi aku tak mau menjadi boneka.


Untuk segala alasan yang diberikan tuhan karena aku menyukai boneka, aku takkan pernah tidak menerimanya. Tapi untuk segala takdir yang aku terima, itu adalah kehendakku.

09 Januari 2011
*Gara ulangtanggalbulan temen, terus dia pengen 'Boneka super gede dan super empuk', kadonya ini aja yah. Untuk Astri.
READ MORE - Aku Suka Boneka

Cupiinya Uti

Bukan ikan yang sembarang ada di sungai-sungai atau di laut, Amazon pun takkan memilikinya. Rawa-rawa yang hijau dan pekat tidak pula dapat menghidupi ikan spesial ini. Selokan kotor penuh jentik nyamuk itu sebagian dari kehidupannya dan tentunya makannya.

Dia memang ikan kotor yang tidak tahu tatakrama. Tapi tatakramakan hanya dibentuk oleh segerombolan kaum yang tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sekitar, tapi sudahlah ini kan hanya ikan, memiliki otakpun barangkali. Apalagi punya hati. Tapi mungkin bisa saja punya hati, buktinya dia bisa berkembangbiak, berarti dia punya cinta. Atau mungkin dia cuma punya nafsu. Apa sih jadi mikirin ikan.

Akuarium ruang tamu memang sudah sekian lama tidak memiliki isi lagi. Hanya si cupii, cupang lucu milik adik paling kecilku. Umurnya juga baru sembilan tahun, masih SD kelas empat tahun. Cantik, tapi kelakuannya itu mirip banget lakilaki. Nakal, tomboy, dan cantik mirip kakaknya tentu. Si cupii dia beli waktu tigabulan lalu. Sebenarnya tanpa ada kesengajaan belinya. Waktu itu ada tukang ikan lewat, biasa anakkecil seneng lihat yang rame-rame. Tapi dasar anak badung, plastik yang didalamnya ada si cupii jatuh, pecah, dan harus dibeli.

Anakkecil segede Uti mana ada yang tanggungjawabnya sudah terbentuk-Namanya Muti, Mutiara, tapi aku suka manggilnya Uti. Buktinya tigabulan si cupii bisa hidup nyaman di akuarium yang tidak terlalu besar. Uti memang rajin, makanpun dia jadwal pagi, sore. Cukup duakali katanya biar, kalau labih bisa jadi gendut, terus cepet mati. Setiap minggu sore rumah si cupii bersihin, dikuras, tapi kalau disuruh sama mamah itu juga.

Sampai suatu saat libur sekolah sudah tiba dan sepertinya rumah nenek jadi sasaran. Rumah di sekitaran kaki gunung daerah jadi tempat yang kami singgahi saat libur sekarang. Dasar si Uti, rasa sayang terhadap ikan kecil itu ternyata melebihi apapun untuk sekarang. Dia bawa juga si cupii liburan.

Hari pertama sampai Uti langsung mengajak jalan-jalan si cupii keliling rumah nenek. Aku coba ikuti dia dari belakang, secara sembunyi-sembunyi tentunya. Entah kenapa juga aku ngikutin si tomboy itu sembunyi-sembunyi, padahal barengpun si Uti mana mau marah, aku kan kakaknya. Sepanjang jalan nyanyian-nyanyian tak sedikitpun terhenti dari mulut cerewet Uti. Aku tetap mengikutinya dari berlakang, sembunyi-sembunyi pula.

Tiba pada danau kecil di kaki gunung tersebut. Uti yang sedari tadi memegang toples kecil dengan si cupii di dalamnya tiba-tiba jatuh. Si cupii loncat-loncat, insangnya tak sedikitpun mendapatkan air. Seperti manusia yang tidak mendapatkan oksigen, si cupii merasa sesaknafas. Sedikit demi sedikit si cupii loncat mendekati danau. Uti yang teriak-teriak hendak menangkap si cupii terus berusaha keras. Aku yang diam agak jauh terus memantai dan kelihat sedikit agak lucu liat anak badung teriak-teriak. Sampai tiba-tiba si cupii masuk ke danau. Uti nangis sejadinya, bagaimana tidak, binatang kesayangannya selama tigabulan kebelakang adalah teman yang paling setia, tidak kurang hampir seharian kerjaannya melototin si cupii di akuarium tengah rumah.

Aku yang tidak tega melihat adikku tersayang nangis lalu mendekatinya. Dia pun kaget melihatku ada di sebelahnya.

Kakak ngapain ada di sini? Sambil nangis Uti bertanya.
Cuma pengen tahu aja kamu mau kemana.
Si cupii kak, cupii nyemplung ke danau. Nangisnya semakin menjadi, berisik, untung di alam bebas.
Terus maunya gimana?
Gatau kak.
Uti, si cupii tuh emang binatang yang harusnya hidup di luar, bukan di akuarium. Ga ada mahluk yang mau di kurung seperti itu. Emang Uti mau kalau dikurung-kurung gitu? Aku mencoba menjelaskan.
Tapikan Uti kasih makan kak. Nangisnya pun sedikit mereda.
makannan apa yang dikasih? Belikan? Emang sehat buat si cupii, kalau di sini si cupii tau apa yang terbaik buat dia. Dia bisa bebas pilih makannan yang disukanya. Kalau di rumah dia bosen makannya itu-itu mulu. Uti terlihat agak mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
Tapi dia sehat-sehat aja kak.
Kita ga tau pasti, fisiknya sehat belum tentukan hatinya sehat. Sudahlah Uti biarin aja si cupii di sini, nanti kalau kau kangenkan kamu bisa main ke sini, siapa tau nanti si cupii udah segede kamu. Ayo kita pulang udah sore, nanti mamah nanyain lagi.

Kami beranjak pulang dengan sebuah pengalaman yang di dapatkan Uti. Entah apa yang diambil dari sedikit pembelajaran yang didapat. Aku pun tak terlalu mengerti apa yang telah terjadi tadi. Tetapi selama di perjalanan pulang Uti masih tetap bernyanyi, itu tandanya Uti masih sangat senang meski tanpa cupii. Selamt tinggal cupii kami akan merindukanmu.

27 Des '11
Untuk semua orang yang pernah, sedang, dan akan memelihara berbagai macam binatang.
Dan untuk Orangutan dan binatang lainnya yang semakin langka.
READ MORE - Cupiinya Uti

Kinanti, aku menikmati permasalahan hidup yang aku nikmati - #5

Untuk Kinanti,

Selamat pagi kinanti, aku menulis surat ini selepas tidur yang mengikatku tadi malam. Semoga suratku sampai pagi hari, karena kamu tahu pagi sangat indah untuk dinikmati bersama kicau burung dan hangat matahari yang baru, bersama sepoci teh manis hangat dan dirimu duduk di sebelahku.

Kinanti, aku telah lama tidak mengirim surat kapadamu, bukan karena aku lupa. Aku tak bisa berfikir jernih sekarang-sekarang ini, pekerjaan yang membuat hidup yang setadinya merasa bebas kini harus menjadi serasa terikat. Hidup yang selalu berusaha membuat diriku tak karuan, entah permainan apa yang di lakukan Tuhan terhadapku. Aku kini menjadi seorang yang lebih banyak berserah atau tepatnya aku menjadi pemalas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ku dapatkan. Aku tidak seambisius dahulu. Aku hampir kehilangan pekerjaanku karena ini. Aku tak dapat fokus terhadap apa yang sedang aku kerjakan. Daedline, besok harus terbit, atasan marah, teman sekantor tak membantu, anak jalanan, semeraut negara, dan bla bla bla yang selalu ada setiap hari. Ahh aku memang sudah tidak dapat menjalankan rutinitas yang selalu berulang setiap harinya, sekiranya aku tahu aku tidak menyukai hidup seperti ini. Semoga kau disana baik-baik saja.

Kinanti, hidup memang harus dijalani sepertimu yang selalu menikmati hidup. Akupun tak lepas dari caraku kini menikmati hidup dengan segala permasalahan diriku sendiri terhadap hidup yang aku nikmati. Ada sesuatu dari hidupku yang sedikit menyenangkan akhir-akhir ini, aku kini lebih sering hidup diluar rumah, di jalan, di rumah teman, di sanggar, di tempat dulu kita mengajar, dan di beberapa tempat yang jauh dari rumah. Tapi aku merasa bahagia hidup diluaran sana, dengan rasa tali persaudaraan yang kuat dan satu sama rasa yang didapat. Ini menjadi sebagian kenikmatan dari permasalahan hidup yang selalu aku jumpai setiap hari. Menjadikan kebosanan rutinitas yang tak kunjung berubah setiap harinya, dan aku ingin selalu menikmati.

Kinanti, pasti kau tidak pernah menyukai surat ini yang tak terlampir terhadapmu karena semua kehidupanku. Kita memang tidak dapat mengetahui bagaimana kita hidup kedepannya kelak, kita tidak bisa selalu menginginkan kehidupan yang kita kehendaki, tapi kita dapat merubahnya dengan menikmati kehidupan yang diberikan, nikmatilah kehidupanmu Kinanti, aku mencintaimu.
READ MORE - Kinanti, aku menikmati permasalahan hidup yang aku nikmati - #5

PESAWAT KERTAS

Aku masih ingat saat kita bermain pesawat kertas di tanah lapang kosong seusai senja sebelum purnama. Kau membuatkanku pesawat itu karena aku tak bisa membuatkanya, ini untukmu, bisikmu yang halus takan pernah ku lupa. Senyum indah dengan lesung pipit itu yang membuatku tak akan pernah melupakan saat sesudah kau menjailiku dengan segudang kejailanmu. Tapi kau selalu mengucapkan maaf seusai itu semua. Aku tak pernah lupa.

Namaku Kinanti, aku sering dipanggil kinan oleh teman-temanku, dan teman yang ku ceritakan tadi adalah Pramudya, aku selalu memanggil Pramu tapi kadang-kadang aku memanggilnya Jamu kalau aku sedang kesal padanya. Aku satu sekolah dengannya, kami masih duduk di kelas 5 SD di sebuah sekolah negeri. Kami selalu berangkat dan pergi sekolah bersama-sama, tak lupa dia selalu memberikan senyuman yang manis untuk dinikmati. Kami memang sudah bersahabat dari kecil, dari kami TK hingga sekarang kami selalu bersama. Dia sahabat yang baik.

Awal maret, katika bermain pesawat kertas yang rutin kami lakukan setiap senja sepulang sekolah. Dia nampak sedikit aneh. Aku akan pergi, dia berbicara seolah dia akan meninggalkaku untuk selamanya. Kau mau kemana, tanyaku dengan sedikit gundah. Aku harus pergi sekarang, aku akan pergi ke luar negri, untuk selamanya. Di berlari meninggalkan tanah lapang dan juga meninggalkan ku untuk selamanya. Aku tak kuat menahan air mata yang telah menari pada kelopak mataku hingga akhirnya jatuh tak tertahankan.
Tahun demi tahun aku lalui sendiri, hingga kini aku beranjak remaja. Aku kini berseragam SMP. Tapi kecerianku tak seperti dulu saat Pramu masih ada bersamaku. Ibu sering bercerita, aku sering mengigau membicarakan pesawat kertas dan Pramudya. Perpisahan kami memang membuat trauma mendalam bagiku. Aku pernah jatuh sakit  saat itu, keparahannya membuatku harus dilarikan ke rumah sakit. Ayah dan ibu yang merawatku hingga aku kembali bisa beraktivitas. Pramudya memang sahabatku yang paling baik. Kebaikannya, semangatnya, keceriaanya, dan sifat pantang menyerah itu yang membuat aku merindukannya. Tapi kini dia telah tiada jauh disana, dan etnah dimana.

Dari semenjak kajadian itu aku menjadi orang yang pendiam, pemalu, dan pemalas. Hingga kini teman-temanku selalu menyemangatiku, tetapi semua sia-sia, karena menurutku tidak ada yang bisa menggantikan kebaikanya Pramudya. Aku sering menangis tak ada sebab, dan Galih teman sekelasku selalu saja mengejekku saat aku menangis. Dia orang yang paling menyebalkan untuk saat ini. mungkin kalau Pramudya masih bersamaku saat ini, dia akan memarahi Galih. Aku sering dijaili olehnya, tapi tidak seperti Pramudya, dia tidak mau meminta maaf sesudah menjahiliku. Aku sangat membencinya.

Suatu saat aku mengalami trauma yang sengat mendalam. Nilai rapotku turun jauh, banyak nilal yang tidak dapat aku terselesaikan dengan sempurna, malah banyak nilai yang dibwah rata-rata. Aku menangis sejadinya saat pembagian rapot itu. Satu sekolah mengetahuinya, karena aku menangis tepat di depat kelasku. Ayah dan ibuku tak mampu menenangkanku, bahkan semua teman sekelas ku tak mampu memberhentikan tangisanku. Hingga saat orang tuaku berbincang dengan guruku ada seorang pria mendekatiku dan memmberikan sebuah pesawat kertas kepadaku. Ini untukmu, dia memberikannya mirip dengan saat aku masih duduk di kelas 5 SD, yah, sama seperti Pramudya memberikan pesawat kertas kepadaku. Aku terkejut sekaligus senang saat itu. Pramudaya, itu kamu, aku berkata kepada orang yang memberikan pesawat kertas tadi. Ini aku Galih, aku terkejut sekaligus bangun dari dekapan tangisan yang mengerangku semenjak tadi. Mau apa kamu? Aku bertanya kepadanya dangan nada sinis, mau mengejeku lagi? Aku semakin berprasangka tidak baik kepadanya. Dengan tenang dan senyum yang hampir mirip dengan Pramudya dia berbicara. Aku hanya ingin memberikan mu pesawat ini. Aku semakin terkejut, ada apa dia memberikanku pesawat itu. Aku tau, aku bukan Pramudya sahabatmu dulu, tapi aku ingin menjadi temanmu, maafkan aku selalu menjailimu, aku melakukannya semata-mata ingin membuatmu kembali ceria, aku tidak suka melihat orang yang hanya berdiam dan melamun tak karuan. Aku tau kau sangat menyayangi sahabatmu itu, tapi itu tak perlu kau sesali, disana diapun tidak menyukai kau yang seperti ini. Dia menasihatiku layaknya kakak terhadap adiknya yang terpuruk. Kau harus kembali bangit dari keterpurukanmu itu, kau anak yang pintar dan kau harus punya semangat layaknya Pramudya sahabatmu. Aku yang tadi menangis kini bisa tersenyum mendengar kata-kata dari Galih. Aku memeluknya seperti kepada seorang kakak. Terima kasih Galih, kau telah mengingatkanku, mulai saat ini aku akan menjadi orang yang lebih kuat, aku harus seprti Pramudya. Aku melepaskan pelukku dan berdiri. Aku menari-nari layak seorang penari balet pada panggung pertunjukan. Teman-temanku kini berubah wajahnya menjadi bahagia, dan orang tuaku yang semenjak tadi terlihat sedih kini kembali tersenyum indah.

Tahun demi tahun kini aku menjadi wanita yang kuat. Aku menjadi orang yang paling ceria di sekolah. Menjadi orang yang paling semangat menatapi kehidupan. Terima kasih Galih berkatmu aku menjadi orang seperti ini. Aku dan Galih menjadi sahabat yang baik seperti kakak dan adik. Tak lupa kepada Pramudya yang menjadi inspirasiku menatapi kehidupan, dan kepada pesawat kertasmu.

SELESAI
READ MORE - PESAWAT KERTAS

Kinanti, pantai bukan tempat indah untuk menuliskan mu - #4

Kinanti, sudah berapa suratku yang tak sampai padamu? Semoga mereka tak pernah sampai, karena aku tak menginginkannya.

Kinanti, pernah tidak kau mendengar suara desir ombak di pantai? Aku tak pernah tahu itu, karena dulu kita tidak pernah bermain air asin laut atau merasakan panas pasir juga semilir angin sejuk pantai. Yang aku tahu kau tidak menyukainya. Kau lebih suka berdiam di tempat penuh pohon dan juga bunga. Itu tempat favoritmu. sejuka dan harum katamu. Kemarin lusa aku pergi ke tempat yang kau tak suka, bermain pasir dan mengejar ombak.Sekarang aku tahu kenapa kau tidak menyukainya, mungkin kau telah pergi ke tempat itu dan merasakan suasananya. Memang sejuknya angin pesisir tidak semerbak hembusan oksigen dari pepohonan dan tak tercium sedikitpun wangi indah bunga seperti di taman kita, hanya bau terik matahari yang menyebar di setiap langkah kaki. Aku sendiri tak mengeri kenapa banyak orang yang senang memanjakan dengan air dari pesisir atau dengan gelombang ombak yang pecahkan karang. Mungkin kau sendiri tahu kenapa mereka seperti itu? Atau ini memang hanya rahasia mereka? Kau wanita penyuka bunga sejati yang aku cintai.

Kinanti, aku sekarang sedang bingung, aku hampir lupa bagaimana cara menulis berita, aku menjadi gelisah tentang semua tulisan-tulisanku, entah karakter yang seperti apa yang aku mau. Mungkin kalau kau ada disini kau akan memarahiku. Ku ingat dulu saat aku menulis tak karuan kau anggap itu adalah tulisan yang paling bagus yang aku tulis. Padahal saat itu aku hanya menulis setiap kata yang telintas dalam otakku, untuk menjadi sebuah kalimatpun itu tidak dianggap benar oleh guru bahasa Indonesia. Tapi kau menyukainya, dengan alasan itu adalah tulisan yang berasal dari hati nuraniku sendiri, tak ada godaan atau paksaan untuk buatku menulis. Aku sendiri tidak mengerti jalan pikiranmu yang selalu menyerukan kebebasan, padahal kau sendiri tak bebas dengan segala kegiatanmu yang kadang membuat dirimu menjadi sakit karena meupakan makan. Hanya senyummu yang aku tahu, itu yang memberikan arti kebebasan dalam setiap hela nafasmu, atau pada setiap jengkal langkah kakimu dalam berkarya. tak akan pernah ku lupa pesanmu saat aku terjatuh karena semua tulisanku, "menjadi baik itu bukan dengan tulisan yang disukai banyak kalangan, tapi bagaimana kau menulis itu semu dengan jujur tanpa sedikitpun ada paksaan dari orang lain". Itu yang selalu membuatku merindu akan tulisanku.

Kinanti, Jangan kau selalu bersembunyi sayang, cobalah kau tatap aku dengan dekat, sama seperti saat kau mencium keningku dahulu. Jangan kau tutupi wajahmu itu, pancarkanlah cahaya cinta dari sisi gelapku untuk terangi jalan kita berdua. Datanglah, akan kusiapkan mantel untuk melawan cuaca dingin saat malam di taman.

READ MORE - Kinanti, pantai bukan tempat indah untuk menuliskan mu - #4

Tragedi


Bergeges dia pergi
Mecari grasi ketika membutuhkan nasi
Dia hanya mendapatkan tai
Di bawah pohon dipinggir kali
Dia lapar, memakannya lalu mati

26 Juni 2011
READ MORE - Tragedi

Tenaga Bantuan

Seorang pengemis di pinggiran jalan kota sedang meminta belas kasih seseorang, dan di tempat berbeda seorang prajurit militer sedang diberikan pengarahan untuk siap bertempur.

*Di tempat pengemis
"Pa tolong pa." Pengemis meminta-minta.

*Di tempat prajurit, komandan memeritahkan untuk menolong tentara lain yang sedang berperang.
"Atas perintah komandan kami akan menolongnya."

*Di tempat pengemis
"Saya belum makan pa." Pengemis tadi memohon.

*Di tempat prajurit. Karena tentara mereka sedang mengalami kekalahan, prajurit tersebut di beri petunjuk.
"Baik kalau begitu saya akan melakukan strategi A untuk itu."

*Di tempat pengemis.
" Pa bantuannya pa." Pengemis meminta-minta.

*Di tempat prajurit. Prajurit tersebut di perintahkan untuk memberi bantuan tenaga untuk para temannya yang sedang berperang.
"Siap saya akan kirim bantuan tenaga."

*Di tempat pengemis, terjadi razia yang si lakukan pemerintah. Pengemis itu tidak bisa berjalan untuk menaiki mobil khusus, petugas mencoba menolongnya. "Saya akan membantu mu menaiki mobil tersebut." pengemis menjawab
"Saya tidak perlu bantuan tenagamu untuk itu, saya hanya perlu bantuan makan."

12 Juni 2011
Rancaekek, Kab. Bandung
Silakan anda bisa menghilangkan kalimat yang ada tanda *
READ MORE - Tenaga Bantuan