Kinanti, aku menulis tepat tengah malam. Malam antara kamis dan jumat, malam selepas hujan menderu dari sore, malam tanpa suara jangkrik, malam tanpa bintang, tanpa bulan. Malam ini aku menulis, tepat di tengahnya.
Kinanti,
Sungguh hari ini menjadi sangat aneh bagiku yang sudah tak kunjung tahu bagaimana hidup akan bergulir ke depan. Mengganti hari, mengganti tanggal, mengganti bulan, bahkan menggati malam ini dengan malam yang mungkin serupa. Tapi aku ingin merasakan malam yang berbeda, hidup tanpa dipenuhi pikiran tanggungjawab untukku sendiri. Aku ingin juga merasakan bangun pagi, bahkan subuh, tentunya di sebelahmu. Atau terbangun tengah malam, bukan untuk menulis surat ini, tapi karena si Kinan kecil nangis. Aku juga ingin merasakan kau cerewet saat aku terlambat pulang. Juga ingin mencoba resep-resep masakan barumu. Ingin menangis sebelum tidur saat aku bercerita ada anak yang kini tak bersekolah, lalu kau memeluku dari samping, menghapus air mataku, menyuruhku untuk tidur, dan diakhiri ciumanmu pada keningku. Aku juga ingin, Kinan. Sungguh sayang. Apa benar aku tak pantas mendapatkannya. Darimu, darimu Kinanti. Seberapa besar kesalahanku, hingga kau tak lagi mau tahu apa yang aku katakan, hingga kau tak pernah memikirkan apa yang aku selalu ceritakan, apa kau dengar, kau dengar Kinan.
Kinanti,
Kemarahan ku ini semata-mata aku merindumu, aku menunggu, menunggu pagi yang menggantikan malam jelek ini. Sungguh aku tak bisa hilangkan bayangmu, sayang. Kenangan lama kita. Tentang cerita-cerita kita saat nanti kita bersama. Cerita tentang ketika malam sudah usai kau bangunkan aku yang tidur di sebelahmu, saat pagi bahkan subuh. Atau cerita, kau akan siap menjaga si Kinan kecil seharian, bahkan malam meski kau telah lelah, dan aku berjanji sama. Aku ingat ceritamu, kau akan banyak bicara kalau aku terlambat pulang, dan saat itu aku berjanji tak akan terlambat pulang. Sungguh indah masa itu, masa di mana aku ingin menjadi orang yang pertama merasakan resep makanan barumu. Alangkah bahagianya, janjimu yang akan menungguku tertidur karena segala keluh kesahku yang membuat lelah, aku tak lupa Kinan. Aku ingin menjadi orang yang pantas di sisimu. Di sampingmu, Kinanti. Aku tak ingin membuat kesalahan. Kesalahan yang membuatmu tak ingin lagi mendengarkan semua perkataanku, memikirkan semua ceritaku, aku ingin kau selalu dengar, selalu dengar Kinan.
Kinanti,
Malam ini sungguh jelek, malam antara kamis dan jumat, malam selepas hujan menderu dari sore, malam tanpa suara jangkrik, malam tanpa bintang, tanpa bulan. Tapi berterimaksihlah, karena malam ini aku menulis, tepat di tengahnya. Untukmu, ceritaku.
09 Maret 2012 – 00.49 WIB

0 komentar:
Posting Komentar